MEMBEDAH PRINSIP PEMIKIRAN KELOMPOK SALAFI GAYA BARU

Posted: Juli 3, 2008 in Syubhat & Bantahan

Kajian kritis tentang firqoh SALAFIYAH. Berbaju Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Berhati Khowarij, Murjiah, Mu’tazilah dan Rofidhoh

MUQODDIMAH CETAKAN KEDUA

Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya dan meminta pertolongan kepada-Nya, kita berlindung diri dari keburukan diri dan kejelekan amal kita. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada orang yang dapat menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada orang yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Saya bersaksi bahwa tidak ada Ilah kecuali hanya Allah tiada sekutu bagi-Nya, dan saya bersaksi bahwa Muhammad itu hamba dan utusan-Nya.

يَاآيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (QS. Ali Imron : 103).

يَاآيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامِ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

“Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (QS. An Nisa’ : 1)

يَاآيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

“Hai orang-orang yang beriman ! Bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar”. (QS. Al Ahzab : 70).

Waba’du ………………..

Pada cetakan kedua dari kitab Al Khutut Al ‘Aridhoh Liushuli Ad’iyati As Salafiyyah, kami kumpulkan prinsip-prinsip kelompok ini, yang tampak dari mereka sikap Tabdi’ (suka membid’ahkan), Tafsiq (suka memfasikkan), Tajrim (suka mengecap dosa), dan Takfir (suka mengkafirkan). Seluruh bahasa yang dipergunakan bertujuan menjauhkan dan mentahdzir (mengambil sikap antipati) kepada para da’I Islam pada khusunya, seperti mereka mensifati para da’I dengan Zindiq (orang kafir yang menampakkan keislamannya), Ilhad (atheis) dan khowarij….. dan lain sebagainya.

Amalan mereka berkisar menyerukan peperangan dan menggolong-golongkan para da’i.

Setelah mendeteksi prinsip-prinsip yang telah mereka buat, saya semakin yakin bahwa mereka merasa yang paling sesuai dengan syara’ dan hukum, sebagaimana itu didapatkan dalam firqoh-firqoh Islamiyyah yang menolak sifat Allah, mereka adalah Al Jahmiyyah dan orang-orang selainnya yang menolak sifat-sifat Rob ‘Azza wa Jalla. Kelompok baru ini datang menamai diri dengan “AS SALAFIYYAH”, yang bertujuan menancapkan prinsip-prinsip kebatilan yang menolak “AL HAKIMIYYAH” (Kekuasaan), yang itu telah dikhususkan untuk Allah وَلاَ يُشْرِكْ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا (dan tidak seorangpun yang mesekutukan dalam hukumnya), maka (dengan dasar itu) mereka mengira bahwa Tauhid Al Hakimiyyah bukan daripada tauhid, bahkan itu bukan termasuk dalam prinsip Dien dan iman, akan tetapi itu merupakan furu’ (cabang). Adapun orang yang menolak hukum secara keseluruhan dihukumi mereka dengan kufrun duuna kufrin (kekafiran yang tidak menyebabkan keluar dari Islam). Menurut mereka orang yang meyakini prinsip (Hakimiyyah) adalah mubtadi’ (pelaku bid’ah) yang membawa ideologi khowarij, dan mereka melaqobi (menjuluki) nya dengan sifat yang jelek dikarenakan (kelompok ini) menuntut kepada ummat untuk kembali kepada hukum Allah dan rosul-Nya. Prinsip yang batil ini memerintahkan untuk meninggalkan para penguasa dan eksistensinya, dan tidak menampakkan pertentangan kepada para penguasa walaupun telah nampak darinya kekufuran yang nyata, dan mereka mengeksiskan musuh-musuh Islam dan mewajibkan untuk meninggalkan kesibukan (membahas) dengan fiqih waqi’ (kontemporer), dan meninggalkan sesuatu yang untuk Allah hanya untuk Allah dan sesuatu yang untuk Kaisar hanya untuk kaisar – sebagaimana telah diterangkan oleh salah seorang pembesar mereka -. Ini merupakan sekuleritas yang nyata. Dari sanalah mereka mengumpat para mujahid fie sabilillah dan memerangi (para mujahid) sebagaimana layaknya memerangi musuh-musuh Allah, maka dengan itu mereka telah menjadi para da’I AT TA’TIIL (yang menolak), yaitu mereka menolak HAKIMIYYAH dan syara’, sebagaimana Jahmiyyah telah menolak sifat dan asma’ Allah.

Madzhab mereka tegak diatas prinsip AT TA’TIL : (Yaitu) Ta’til jihad, ta’til amar ma’ruf dan nahi mungkar kecuali dengan izin imam – menurut prasangka mereka -, ta’til da’wah ilallah, ta’til mendeteksi keadaan ummat, menyibukkan diri memerangi orang-orang sholih, membuka aurot orang-orang sholih dan menjauhkan menusia dari mereka.

Pada cetakan pertama telah saya habiskan dalam membahas tujuh hal yang sangat kecil, akan tetapi saya ungkapkan dengan ungkapan yang besar.

Karena desakan permintaan untuk menghapus kitab ini, maka kami hadirkan cetakan kedua dengan ditambah prinsip-prinsip (mereka) yang baru. Demi Allah, Kami meminta kepada Allah akan semua amalan ini hanya mengharap wajah-Nya, dan (semoga kitab) ini menjadi penghalang dari fitnah kelompok ini, untuk menghilangkan fitnah ini dari jati diri salafiyah yang sesungguhnya, yang mendapat petunjuk dengan petunjuk Al Qur’an Al Karim, dengan sunnah sayyidil mursalin, dengan siroh salaf as sholih yang baik lagi suci, dan seluruh orang yang meniti jejak ulama ummat yang ‘alim lagi mujahid.

D. Abdurrozzaq bin Khulaifah As Syaiji

MUQODDIMAH CETAKAN PERTAMA

Segala puji hanya untuk Allah semata, dan keselamatan atas hamba-Nya yang terpilih. Amma Ba’d

Inilah Langkah-langkah yang menampakkan pemikiran baru, yang menisbahkan diri kepada sunnah, menyelimuti dirinya dengan pakaian salafiyah secara dholim, dan menyelimuti dirinya dengan selimut ahlus sunnah wal jama’ah secara dosa, yang ini semua mengakibatkan rusaknya seluruh amal da’I, dan menghapus faridhoh jihad fie sabilillah, amar ma’fur dan nahi mungkar, dan menambah perpecahan kesatuan ummah Islamiyyah.

Kami berkehendak mempelajari idiologi ini dan mengumpulkan prinsip-prinsip dan kaidah-kaidahnya tanpa menyebutkan siapa yang mengatakannya, akan tatapi yang kami inginkan adalah mengambil sikap berhati-hati dari idiologi yang tegak di atas dasar (suka) mencela, (suka) menyebarkan khabar (bohong), (suka) menjarh (mencela) tanpa celaan yang benar, (suka) menbid’ahkan tanpa ada kebid’ahannya (yang nyata), (suka) mengkafirkan tanpa menunjukkan rambu-rambunya, menyibukkan diri berdakwah kepada Allah dengan hinaan dan celaan, dengan cara mengkafirkan, membid’ahkan seluruh makhluk selain (kelompok) mereka, dan menampakkan peperangan kepada (selain kelompok mereka), seperti layaknya memerangi orang-orang kafir, munafik, sekuler dan kelompok kiri (komunis). Kita bisa menyebut orang yang beridiologi seperti ini dengan “JARHIYYIN” (orang-orang yang suka mencela)… dikarenakan kesibukan mereka (dalam mencela), inilah pekerjaan dakwah mereka yang mendasar, menjadikan celaan sebagai dien, maka sampai kapan mereka menjadikan celaan dan makian sebagai dien ?!!

Sesungguhnya kewajiban kita adalah bekerja keras membuka kejelekan idiologi ini, dan menjauhkan para remaja ummat Islam secara umum dan para pemuda salafiyyah secara khusus dari tergelincir kepada idiologi ini. Wallahul Musta’an.

D. Abdurrozaq bin Khulaifah As Sayiji

PRINSIP-PRINSIP PEMIKIRAN

KELOMPOK SALAFI GAYA BARU

Prinsip Pertama : Prinsip (ini merupakan prinsip) pokok yang mencakup semua (sifat firqoh yang sesat )

PRINSIP PERTAMA : Mensikapi para da’I sebagaimana sikap khowarij, mensikapi para penguasa sebagaimana sikap murjiah, mensikapi jama’ah-jama’ah sebagaimana sikap rofidhoh dan mensikapi orang-orang yahudi, nasrani dan kafir sebagaimana sikap Qodariyyah.

Perkumpulan ini telah menjadikan tajrih (mencela) sebagai dien, dan menggunjing orang-orang sholih sebagai manhaj …. Dan telah terkumpul padanya kejelekan yang ada pada firqoh-forqoh (yang sesat).

(Maksud) penyikapan mereka kepada para da’I sebagaimana sikap khowarij adalah, mereka mengkafirkan orang yang melakukan kesalahan, dan mereka menganggap orang yang berbuat ma’siyat itu keluar dari Islam dan mereka menghalalkan darah mereka dan mewajibkan membunuh dan memeranginya.

Adapun pensikapan mereka kepada para penguasa sebagaimana sikap Murjiah adalah, (menurut mereka) Islam itu cukup hanya dengan lisan saja tanpa diaplikasikan dengan amal, adapun amal menurut mereka, jika dinisbahkan pada penguasa (maka penguasa) itu telah keluar dari penyebutan iman.

Adapun pensikapan mereka kepada jama’ah-jama’ah, mereka menggunakan manhajnya rofidhoh dalam mensikapi para shahabat dan ahlus sunnah, maka sesungguhnya rofidhoh telah bersepakat dalam sangkaannya yang salah dalam mensikapi shahabat yang mulia, dan mereka mencampakkan para shahabat semua, dan mereka bersepakat (menolak) atas ketergelinciran (yang dilakukan oleh) ulama ahlus sunnah.

Adapun pensikapan mereka kepada orang-orang yahudi, nasrani dan kafir sebagaimana sikap Qodariyah Jabariyyah. Mereka berpendapat bahwa tidak ada jalan keluar dari kekuasaan orang-orang kafir, sementara kaum muslimin tidak mampu menolaknya, dan semua harokah dan jihad yang berusaha menolak orang-orang kafir dari hadapan ummat Islam kesudahannya hanyalah kegagalan, oleh karena itu jangan berjihad sampai datangnya imam !!!.

Sungguh mengherankan, bagaimana mungkin bisa terkumpul pada mereka kebid’ahan firqoh-forqoh (yang sesat) ini ?!! Bagaimana mereka bisa mengukur dalam setiap permasalahan dengan dua ukuran, maka ukuran yang mereka gunakan mengukur para penguasa tidak menggunakan ukuran yang mereka gunakan untuk mengukur para ulama Islam !! Fala haula wala quwwata illa billah !!!

Prinsip Kedua : Prinsip mereka dalam mengkafirkan dan membid’ahkan

PRINSIP KEDUA : Setiap orang yang terjerumus dalam kekafiran maka ia talah kafir, dan setiap orang yang terjerumus dalam kebid’ahan maka ia telah menjadi mubtadi’ (pelaku bid’ah).

Inilah prinsip mereka yang kedua, yaitu mengkafirkan seorang muslim yang terjerumus dalam perkataan kekafiran atau yang mereka sangka kafir, tanpa mendeteksi (apakah orang itu) mengatakan kekafiran (dengan nyata-nyata) atau karena salah atau karena ta’wil (yang salah) atau karena bodoh atau karena terpaksa.

(Mereka beranggapan) bahwa setiap muslim yang terjerumus dalam kebid’ahan atau ragu dengan kebid’ahan maka ia telah menjadi mubtadi’, tanpa mengoreksi terlebih dahulu (apakah) orang yang mengatakan kebid’ahan atau pelaku bid’ah itu (melakukannya) karena salah ta’wil ataukah ia seorang mujtahid atau seorang yang bodoh.

(Sebenarnya) merekalah yang paling layak dijuluki mubtadi’, karena mereka telah mengambil prinsip ini dari prinsipnya ahlul bid’ah dan dicampur dengan prinsip ahlus sunnah wal jama’ah.

PRINSIP KETIGA : Yang tidak membid’ahkan mubtadi’ (pelaku bid’ah) maka menjadi mubtadi’

Prinsip yang ketiga ini merupakan prinsip yang rusak, maka ketika mereka telah menghukumi seseorang dengan mubtadi’ atau menghukumi sebuah jama’ah da’wah itu termasuk dari jama’ah bid’ah, dan kita tidak mengambil pendapat serta hukum mereka yang rusak itu, maka anda adalah mubtadi’, karena anda tidak membid’ahkan mubtadi’.

Fala haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim. Itu merupakan prinsip dasar (mereka), maka itu bisa jadi menimpa kita atau menimpa mereka sendiri.

Mereka mengikuti jalan orang sebelum mereka dalam cara menghukumi, yaitu orang-orang yang berkata “Siapa yang tidak mengkafirkan orang yang kafir – menurut mereka – maka ia telah kafir”.

Maka apabila mereka telah menghukumi seorang muslim dengan kekafiran, kemudian anda tidak sepakat dengan keputusan mereka, maka anda telah kafir juga, karena anda tidak sepakat dengan ijtihad mereka. Perkataan seperti ini sama dengan perkataan orang khowarij.

PRINSIP KE EMPAT : Methodhe pengambian dalil dengan manhaj yang rusak di dalam membid’ahkan, memfasikkan, menghajer (mengisolasi), dan mentahdzir dari kebid’ahan, dengan beralasan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan kesalahan para nabi.

Ini merupakan musibah besar yang menimpa mereka, yaitu mereka menyangka bahwa ketika Allah menunjukkan kesalahan yang pernah diperbuat nabi kita , sebagaimana firman Allah Ta’ala kepada nabi Nuh ‘alaihis salam :

إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ (sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu). QS. Hud : 46. dan firman Allah Ta’ala pada nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam :

عَفَا اللهُ عَنْكَ لِمَا أَذِنْتَ لَهُمْ (Allah memberi maaf kepadamu, mengapa engkau idzinkan mereka). QS. At Taubah : 43. dan firman Allah Ta’ala lagi :

وَلَوْلاَ أَنْ ثَبَّتْنَكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيْلاً (Dan jika tidak Kami tetapkanmu, niscaya hampirlah kamu cenderung sedikit kepada mereka). QS. Al isro’ : 74. dan masih banyak lagi yang senada dengan ini di dalam Al Qur’an.

Orang-orang bodoh itu menyangka, bahwa ini menyimpang prinsip rusak mereka yang telah dibuat dan ada-adakan, yaitu menyebut dan menggunjing kekeliruan para da’I ilallah dengan bertujuan menjauhkan dan mentahdzir manusia dari mereka.

Bagaimana anda mengkiyaskan ayat ini wahai ahli akal ?!! Apakah para nabi itu telah menjadi mubtadi’ yang wajib ditahdzir ?!!!. Sesuai dengan ilmu, maka prinsip ini tidak boleh disandangkan pada mereka (para da’I) dari celah kesalahan yang pernah mereka lakukan, karena mereka (para da’i/syaikh) boleh melakukan sesuatu yang orang lain tidak boleh melakukannya, dan barangsiapa yang mengikuti mereka (para da’I) maka telah mengikuti salaf dengan sempurna.

Maka apakah mereka (para pengaku salafiyyin) telah menempatkan diri pada kedudukan Rob yang memberi petunjuk para nabi ?!!! Apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala berkehendak dengan memberikan petunjuk kepada para nabi – Karena melakukan kesalahan - itu agar manusia mentahdzir mereka sebagaimana yang mereka lakukan kepada para da’I yang mendapat petunjuk ?!!!. Apakah Allah dengan menyebutkan kesalahan-kesalahan para nabi itu berkehendak mencela dan menghina mereka sebagaimana yang mereka lakukan kepada para da’I ilallah ?!!! Maha tinggi Allah, apa yang mereka ucapkan merupakan kesombongan yang besar … Walaa Haula walaa Quwwata Illaa Billahil ‘adziim.

Sesungguhnya hikmah Allah amat besar. Segala yang IA sebutkan untuk menunjukkan para nabi tiada lain kecuali untuk menerangkan kedudukan mereka (para nabi) yang tinggi, dan (menerangkan) bahwa mereka itu manusia biasa, yang terkadang ijtihad (mereka salah) kemudian Allah luruskan dan Allah berbicara kepada mereka. Allah itu Rob yang Maha Agung, dengan kelembutan-Nya, kebaikan-Nya, kasih sayang-Nya, hikmah-Nya dan ilmu-Nya.

Lihatlah firman Allah Ta’ala yang ditujukan kepada nabinya shollallahu ‘alaihi wasallam : عَفَا اللهُ عَنْكَ لِمَا أَذِنْتَ لَهُمْ (Allah memberi maaf kepadamu, mengapa engkau idzinkan mereka). QS. At Taubah : 43. Maka sebelum Allah menimpakan sanksi Allah memberikan maaf terlebih dahulu … dan seluruh teguran yang ditujukan kepada para rosul, di dalamnya mengandung balighul Kalam (kalimah yang penuh makna), dan mengandung kebaikan yang bisa meninggikan sifat mereka…..

Andaikan kalian mempelajari ilmu tentang khitob Ilahi kepada para rosul-Nya …. Kalian pasti mengerti bagaimana beretika kepada para ulama Islam, kepada ahlul ijtihad yang mereka (bersungguh-sungguh) dalam berijtihad. Memang terkadang mereka salah dan juga terkadang benar (dalam berijtihad). Jika kalian mempunyai ilmu atau adab, kewajiban kalian adalah menasehati dan memaklumi kesalahan mereka, dan kalian maafkan kelalaiannya, kalian luruskan perjalanan nya. Akan tetapi kalian telah membuat prinsip yang dapat merobohkan (bangunan) dien, mengobrak-abrik para da’I ilallah Robbul ‘Alamin, sehingga nyaris kesalahan yang mereka lakukan kalian jadikan jalan untuk merobohkannya, membuangnya, menghinanya dan mencelanya !!! Hanya kepada Allahlah tampat untuk mengadukan (perbuatan) orang yang meninggalkan menolong dien ini, dan pekerjaannya hanya untuk merobohkan Islam dan kaum muslimin.

PRINSIP KE LIMA : Tidak boleh menggunakan (lafadl) yang mutlak atas muqoyyad, mujmal atas mufassir dan tidak pula musabbih atas hukum kecuali dalam firman Allah

Ini merupakan prinisp mereka yang ke lima, mereka telah menjadikan prinsip ini hingga mereka menghukumi kafir dan bid’ah pada para da’i yang mereka kehendaki, dikarenakan ia mendapati perkataan da’I tersebut perkataan yang membimbangkan, atau ungkapan yang tidak jelas, atau ucapan yang mujmal yang dimungkinkan mengandung makna yang rusak, maka mereka sering mengartikan perkataan (da’I) tersebut dengan makna yang rusak seperti yang mereka kehendaki, dan mereka tidak mau tau perkataan (da’I) yang mujmal ini telah ia uraikan pada tempat yang lain dengan uraian yang benar, atau ia uraikan pada tempat yang lain dengan (memberikan keterangan yang benar).

Sikap yang seperti ini hanyalah memburu dan mencari-cari kesalahan seorang muslim, dan membawa perkataan seorang muslim pada perkataan yang tidak ia bawa, dan manafsirkan perkataan tersebut dengan penafsiran yang berbeda dengan niat dan maksud muslim tersebut, dan mereka mengkecualikannya untuk para syaikh dan pengikut mereka.

PRINSIP KE ENAM : Kesalahan yang dilakukan oleh seseorang tidak akan diampuni

Termasuk cabang pengkafiran yang ada pada mereka adalah, ungkapan yang mereka lontarkan “Bahwa manusia – maksudnya orang ‘alim ataupun jahil dengan perkara hukum dan masalah-masalah syari’ah – itu tidak akan diberi ampunan dikarenakan kejahilannya dan kesalahan yang ia lakukan dalam masalah dasar-dasar dien”.

Prinsip mereka ini terbangun atas pemahaman yang salah dalam memahami perkataan ulama bahwa ijtihad itu tidak diterima dalam masalah ‘aqidah… lalu mereka memahaminya dengan pemahaman yang salah (seperti pemahaman orang khowarij), bahwa orang yang melakukan kesalahan dalam masalah-masalah aqidah maka tidak ada ampunan baginya… oleh karena itu mereka mengkafirkan para ulama dikarenakan (kesalahan yang ia lakukan), baik yang ia sadari atau tidak ia sadari.

PRINSIP KE TUJUH : Menyebut seorang muslim dengan kata-kata ZINDIQ tanpa menggunakan dalil yang jelas

Pada umumnya kata-kata ZINDIQ tidak di dapatkan dalam perkataan ahli ilmu kecuali (diberikan) kepada orang-orang kafir yang menampakkan keIslamannya, dan lebih khusus lagi terhadap paganisme dan yang mengakui adanya dua Ilah, yang menentang Nubuwwah dan risalah, dan kelompok-kelompok batiniyyah yang membawa makna Al Qur’an atas aqidah paganisme.

Para ulama telah berpendapat bahwa orang zindiq itu wajib dibunuh dan tidak ada taubat baginya, dikarenakan ia menampakkan kekafirannya dan karena ia telah menjadi orang munafiq lagi pembohong.

Kelompok yang mudah mengkafirkan ini mudah menyandangkan kata-kata zindiq atas seorang muslim yang mengikuti Al Qur’an dan sunnah yang melakukan kesalahan di dalamnya. Fala haula wala quwwata illa billah. Wa inna lillahi wainna ilaihi roji’un. Mudah-mudahan (Allah) memberikan udzur kepada mereka dalam masalah ini, dikarenakan tidak didapatkan di dalam kamus mereka kecuali kata-kata zindiq…. Khowarij…kafir…dan mubtadi’.

PRINSIP KE DELAPAN : Hujjah ditegakkan hanya dalam negeri yang jauh dari Islam

Dari kebingungan suatu kaum, yaitu perkataan sebagian mereka bahwa menegakkan hujjah pada orang yang terjerumus dalam kekafiran itu hanya dalam negeri yang jauh dari Islam, maka kalau berada dalam negeri Islam hujjah itu tidak dibutuhkan untuk menghukumi orang yang terjerumus dalam kekafiran. Atas prisnsip khowarij ini, maka orang yang terjerumus ke dalam kekafiran atau kesyirikan maka ia menjadi kafir dan musyrik, karena ia berada dalam negeri Islam, dan tidak dibutuhkan penegakan hujjah kepadanya. Prinsip ini sama dengan prinsip yang terdahulu “Barangsiapa yang terjerumus dalam kekafiran maka ia telah kafir”.

Kecuali para penguasa, menurut mereka dibutuhkan penegakkan hujjah kepadanya untuk (menentukan) kafir dan tidaknya penguasa itu. Adapun rakyat tidak dibutuhkan penegakan hujjah atasnya.

PRINSIP KE SEMBILAN : Amal Jama’I atau Ummul Fitani ? (Amal Jama’I atau Sumber Fitnah).

Pelana kelompok ini telah memporak-porandakan ikatan yang kuat dari ikatan dien ini, yaitu masalah ‘Amal Jama’i. Mereka menyebutnya dengan Ummul Fitani (Sumber fitnah).

Adapun dalil pengharaman mereka terhadap amal jama’I adalah, bahwa amal jama’I tidak didapatkan di dalam syara’, dengan alasan kalau itu memang merupakan perkara yang wajib, tentu rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam menjelaskannya dengan penjelasan yang umum, bukan menjadikan amal jama’I sebagai pemertajam pendapat dan menampakkan hawa nafsu, bukan untuk memunculkan pertentangan dan perselisihan, dan untuk menitipkan perpecahan dan perselisihan… Mereka (pengaku salafiyyin) berkata tentang dalil disyari’atkannya amal jama’I, bahwa amal jama’I itu tidak menunjukkan kepada kebenaran yang hakiki atau menunjukkan kepada kehakikian sebuah kebenaran, alasan yang mereka gunakan adalah pemaksaan yang diada-adakan yang tidak dipakai kecuali oleh orang-orang yang mengikut falsafat. Adapun tuntutan waktu yang ada pada sebagian negeri yang para da’I harus sirriyah (rahasia) maka itu dianggap oleh mereka sebagai pintu kesesatan. Kita berlindung diri kepada Allah, karena dien Allah itu telah jelas, tidak ada keraguan, dan tidak ada kitman (sembunyi) dan juga tidak ada kerahasiaan.

PRINSIP KE SEPULUH : Hizbiyyah yang tercela dan amal jama’I Yang Masyru’, dua bentuk (yang terkemas dalam) satu amal

Mereka menjabarkan bahwa hizbiyyah menuntut untuk beramal jama’i, dan mereka menolak berbilangnya hizbiyyah atas amal jama’I, mereka berkata : “Sesungguhnya hizbiyyah menjadi dien jika kita namai dengan amal jama’I atau kita sebut jama’ah, atau Yayasan, Atau Lajnah, atau harokah. Karena itu semua merupakan pecahan darinya !!!

Oleh karena itu mereka berpendapat bahwa nama-nama dan istilah-istilah ini jauh dari kejelasan, dan itu menutupi Islam dan kaum muslimin, beginilah hizbiyyah modern dan perkumpulan yang pada mulanya berniat baik … kemudian menjadi kumpulan yang menunjukkan jati dirinya.

PRINSIP KE SEBELAS : Mereka mengharamkan amal jama’I dan tandzim dakwah atas semua jama’ah Islam, sementara mereka membolehkan untuk diri mereka dan kelompoknya

Mereka telah memfatwakan bahwa amal jama’I dan tandzim dakwah itu haram, dengan hujjah bahwa amal jama’I dan tandzim dakwah itu menyeru kepada hizbiyyah, akan tetapi perbuatan mereka menyelisihi fatwa mereka sendiri. Menurut mereka amal yang tertandzim (teratur) seperti pekan budaya , kemah-kemah, mencetak kitab, hubungan fikroh dan koordinasi antar mereka di berbagai daerah dan antar pengurus daerah di berbagai kota itu termasuk yang tidak mereka ingkari.

PRINSIP KE DUA BELAS : Mengumpulkan kejelekan jama’ah-jama’ah dauliyyah* dan menolak kebaikannya dengan bertujuan merobohkannya

Orang-orang yang menjadikan tajrih sebagai dien ini berkonsentrasi mengumpulkan kesalahan-kesalahan dan kejelekan-kejelekan yang dilakukan oleh indifidu personal jama’ah dauliyyah, bukannya bertujuan memberikan peringatan kepada personalnya dan memberikan keterangan kepadanya untuk menasehati mereka, akan tetapi bertujuan merobohkannya dan menjauhkan diri darinya serta membid’ahkannya, bahkan mengkafirkan orang yang begabung kepadanya. Mereka menghukumi semua (yang ada di dalam jama’ah) tersebut, disebabkan kesalahan yang dilakukan sebagian personalnya. Maka apabila didapatkan salah seorang personal jama’ah tabligh beraqidah shufi, maka semua orang yang ada di dalam jama’ah tabligh disebut ahli shufi. Apabila didapatkan salah seorang personal Ikhwanul Muslimin orang yang berloyal kepada rofidhoh, maka seluruh orang Ikhwanul Iuslimin disebut rofidhoh.

Sebenarnya mereka mengerti, bahwa tidak semua orang yang bergabung ke dalam jama’ah tabligh itu masuk dalam shufi yang membahayakan. Lalu apakah jika sebagian penduduk suatu negeri berbuat kejelekan kemudian seluruh penduduk bumi dijuluki orang-orang yang melakukan kejelekan semua disebabkan perbuatan sebagian penduduknya ?!

Sesungguhnya manusia tidak menanggung dosa yang dilakukan orang lain, kecuali jika ia ridho dan mengikuti perbuatan dosa tersebut. Sungguh banyak sekali para ulama dan para penuntut ilmu yang masuk ke dalam jama’ah dakwah dengan bertujuan membenahi perjalanan jama’ah dakwah tersebut, menyebarkan aqidah yang benar diantara personal-personalnya, dan didapatkan bahwa jama’ah dakwah (menjadi ajang) berkumpulnya kemanfaatan untuk berdakwah dan saling tolong menolong di atas kebaikan dan ketaqwaan.

PRINSIP KE TIGA BELAS : Jama’ah-jama’ah Islamiyah merupakan firqoh-firqoh yang sesat

Prinsip ke tiga belas dari prinsip pengikut salafiyyah gaya baru adalah, mereka mengatakan bahwa jama’ah-jama’ah islamiyyah yang ada ini tiada lain kecuali hanya menambah munculnya firqoh-firqoh yang sesat daripada Mu’tazilah, As’ariyyah, Khowarij, Qodariyyah dan Jahmiyyah, yang menggunakan manhaj kholaf dalam (masalah) ‘aqidah, maka sebagai ganti penyebutan As’ariyyah, Mu’tazilah, mereka menyebutnya dengan Ikhwani (pengikut Ikhwanul Muslimin) dan tablighi (pengikut jama’ah tabligh)….

Imam As Syatibi rohimahullah telah menerangkan dalam kitab Al I’tishom tentang ketentuan menghukumi jama’ah itu jelas-jelas termasuk dari firqoh-firqoh yang sesat, beliau berkata : “Bahwasanya firqoh-firqoh yang ada ini menjadi seperti halnya fiqoh-firqoh yang menyelisihi firqoh An Najiah (apabila mereka menyelisihi) urusan dien dan kaidah-kaidah syari’ah secara Kulli (keseluruhan), bukan dalam urusan yang juz-I (persial) daripada urusan-urusan dien. Kalau begitu urusan yang juz-I dan furu’ (cabang) itu tidak menyebabkan ia disebut menyelisihi (urusan dien) yang bisa menyebabkan perpecahan menjadi kelompok sendiri. Hanyasanya jama’ah itu disebut menumbuhkan perpecahan ketika menyelisihi dalam urusan-urusan yang kulliyyah (keseluruhan)……. – sampai perkataan beliau – “Termasuk disebut menyelisihi urusan-urusan dien secara kulli dikarenakan banyaknya (melakukan penyelewengan dalam dien) dengan secara persial (juz-I). Karena pelaku bid’ah disebut sebagai orang yang menentang syari’ah jika ia banyak melakukan amalan-amalan furu’ (cabang) dari kebid’ahan”. (Al I’tishom : 2/200).

PRINSIP KE EMPAT BELAS : Jama’ah-jama’ah dakwah yang ada merupakan jama’ah-jama’ah riddah (murtadz) dan berupaya meruntuhkan tauhid

Tatakala mereka menetapkan bahwa jama’ah-jama’ah dakwah yang ada itu lebih membahayakan Islam daripada yahudi dan nasrani, dan wajib mendahulukan memerangi mereka sebelum memerangi yahudi dan nasrani, dan mengumpulkan kejelekan-kejelekannya untuk dimusnahkan, sampai-sampai sebagian mereka (salafiyyin) mempunyai anggapan bahwa jama’ah-jama’ah yang ada merupakan dari jama’ah-jama’ah riddah, dan mereka menyangka bahwa semua jama’ah yang ada telah menyeleweng dari manhaj yang haq, dan mengambil manhaj dan aqidah dari kholaf serta memasukkan diri ke kancah (dakwah) dengan memakai nama jama’ah-jama’ah dakwah dan jama’ah-jama’ah khoir, (padahal tujuan jama’ah ini) sebenarnya adalah berusaha merusak dan memerangi dakwah tauhid, maka jama’ah-jama’ah tersebut telah keluar dari koredor Islam yang melebarkan sayapnya untuk menumpas dan menyerang Islam dan kaum muslimin, dan mengadakan kerusakan pada bangunan dan bumi Islam. Kejelekan (jama’ah-jama’ah) itu tersembunyi seperti tersembunyinya racun ular dalam tubuh manusia yang tersengat, tidak bisa bergerak dan berteriak, tidak bisa menampakkan isi kejelekan ini dan menampakkan meluasnya kebohongan atas fenomena sebagaimana fenomena yang ada.

PRINSIP KE LIMA BELAS : Mendeteksi kondisi ummat dan mengenali musuh-musuhnya serta idiologi mereka yang diharamkan oleh syara’ dengan pendeteksian yang ada dalam kitab At Tauroh yang menyeleweng.

Mereka mendeteksi kondisi ummat Islam dan mengenali langkah-langkah musuh-musuhnya serta membuka langkah-langkah makar mereka dengan menggunakan perkara yang diharamkan dalam dien, dan ia tunduk kepada pemerintahan barat, dan mereka mengukur dalam masalah itu seperti halnya pendeteksian yang ada dalam Taurot yang menyeleweng. Padahal rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam marah kepada shahabat Umar ibnu Khottob (yang membawa lembaran Taurot), dan Umar mengambil kebaikan yang ada di dalam kitab Taurot tersebut. Maka rosulullah bersabda kepadanya :

لَقَدْ جَاءَتْكُمْ بِهَا بَيْضَاءٌ تَقِيَّةٌ وَاللهِ لَوْ كَانَ مُوْسَى حَيًّا لِمَا وَسِعَهُ إِلاَّ أَنْ يَتَّبِعَنِيْ

“Sungguh telah datang kepada kalian (cahaya) yang putih. Demi Allah jikalau Musa masih hidup pasti ia akan mengikutiku”. (Ad Darimi : 441).

Adapun mendeteksi (dengan) yang ada di dalam Taurot untuk menolak penentangnya dan untuk mengetahui makar orang-orang kafir, maka ini wajib bagi kaum muslimin (untuk mengetahuinya), dan ini termasuk bilangan fardhu kifayah yang harus ditegakkan oleh sebagian kaum muslimin, kalau tidak maka semuanya terkena dosa.

PRINSIP KE ENAM BELAS : Fiqih Waqi’ (kontemporer) dan kekhususannya itu hanya hak ulil amri

Mereka menetapkan, bahwa fiqih waqi’ itu menjadi pemecah belah para remaja ummat ini, menumbuhkan kedengkian dan moral yang rusak. menumbuhkan kebohongan dengan kejujuran, menumbuhkan kekejian dan kekejian pelakunya, kejujuran dengan kebohongan, kebohongan dan kejahatannya, dan menyebarkan berita yang jelek yang dapat menimbulkan fitnah. Jikalau kamu keluar dari rumah, kamar, desa dan kota pasti semuanya telah kemasukan fitnah.

Mereka berkata bahwa fiqih kontemporer merupakan kewajiban pemimpin kaum muslimin, dan tidak boleh dikerjakan oleh ahli ilmu dan penuntut ilmu, dan tidak boleh menyaingi para pemimpin dan lari ke dalam medan yang mereka tidak mengetahui jauh dan dekatnya, sehingga bisa mengakibatkan keramaian dan perlombaan yang dapat membahayakan diri dan ummat mereka, ia tidak mengerti jaraknya kecuai hanya Allah. Maka jika para penuntut ilmu itu menyibukkan diri dengan fiqhul waqi’(maka ia telah meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya), sebgaimana perkataan mereka :

إِنَّ هَذَا مِنْ إِسْنَادِ الْأَمْرِ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ

“Sesungguhnya ini termasuk menyerahkan urusan kepada selain ahlinya”.

PRINSIP KE TUJUH BELAS : (Mempelajari) fiqih waqi’ hanya menyia-nyiakan waktu, menghilangkan kesungguhan dan membuang faedah

Tatkala para da’I salafiyah itu menetapkan bahwa fiqih waqi’ itu merupakan kekhususan pagi para pemimpin, maka mereka meremehkan dan membodohkan orang-orang yang menyibukkan (diri dalam mempelajari fiqih waqi’ tersebut). Bahkan mereka menganggap fiqih waqi’ itu lebih dekat kepada kemewahan berfikir yang dikuasai oleh sekelompok intelek modern, dan mereka menganggap fiqih waqi’ itu sebagai seruan yang tersembunyi dan cerdik dengan tujuan melawan pemikiran Islam. Mereka menghancurkan pintu-pintu fiqih waqi’ hingga hancur sehingga mereka seakan-akan talah melawan semua unsur fiqih waqi’, mulai dari usulnya, kaidahnya, sarananya dan cabangnya, dan sesungguhnya menyeru kepada fiqih waqi’ dikatakan sebagai orang yang lalim lagi pembunuh. Adapun jalan yang paling mulia untuk fiqih waqi’ adalah engkau tinggalkan fiqih waqi’, (karena) orang yang alim dengan ilmu fiqih waqi’ adalah orang yang meninggalkan fiqih waqi’, seperti ungkapan mereka “ Sungguh kita tinggalkan fiqih waqi’ dalam rangka mengenal waqi’”. Dan tidaklah perisai ini (mereka pakai) kecuali hanya utnuk menutupi kebodohan dan dengan apa yang terjadi di sekitar mereka serta untuk merintangi jihadnya kaum muslimin.

PRINSIP KE DELAPAN BELAS : Tidak boleh berperang kecuali bersama imam umum (kholifah)

Mereka hendak menghapus kewajiban jihad yang kekal sampai hari kiamat, maka mereka membuang syarat-syarat wajibnya jihad, yang tidak berlaku kecuali pada akhir zaman nanti –menurut sangkaan mereka -, diantaranya :

Bahwasanya jihad itu tidak dibuka pintunya, tidak diangkat benderanya, tidak ada orang yang boleh menyerukannya kecuali satu imam – kholifah -, sebagaimana semua hudud dan uqubah (sanksi).

Tatkala imam tidak ada, maka menurut mereka jihad pada hari batil dan termasuk bunuh diri, dan orang yang mati syahid di negeri Islam pada hari ini adalah bunuh diri.

“Orang-orang yang berjihad tanpa imam seperti halnya orang yang menusukkan anak panah ke perutnya”. Demikianlah perkataan mereka !!!

Perkataan ini merupakan dosa besar diantara dosa-dosa yang besar, (dikarenakan) menyelisihi ijma’ ahlul Islam, Al Qur’an dan as sunnah bahwa jihad itu kewajiban yang abadi hingga hari kiamat, baik ada imam umum –kholifah- atau pun tidak ada imam umum….. dan perkataan seperti ini tiada yang mengucapkan kecuali orang rofidhoh pada masa dahulu dan qodiyaniyyah pada masa sekarang…

PRINSIP KE SEMBILAN BELAS : Jihad satu beban yang tidak mampu dipikul pada zaman ini, dan tidak berdosa meninggalkannya

Bersandarkan pada prinsip yang telah lalu yang menerangkan bahwa tidak boleh perang kecuali setelah adanya imam umum, maka mereka meninggalkan faridhoh jihad dengan ungkapannya bahwa jihad itu merupakan beban yang tidak mampu dipikul, dan ummat ini tidak berdosa bila meninggalkannya, itu semua tiada lain hanya untuk melemahkan jiwa anak-anak, yang hari ini telah diwajibkan oleh Allah dan disebutkan pula sebab-sebabnya sehingga ia wajib menyambut seruan-Nya. (Dengan ungkapan tersebut) maka mereka seperti orang yang menunggu datangnya pemilik bangunan untuk memberikan solusi pada ummat sehingga bisa sholat jum’ah dan berjama’ah dan juga berjihad.

PRINSIP KE DUA PULUH : Paling utama jihad hari ini adalah meninggalkan jihad dan paling utama I’dad hari ini adalah meninggalkan jihad

Pemiliik idiologi ini berpindah dari pendapat yang mengatakan bahwa jihad merupakan beban yang tidak mampu dipikul, berpindah kepada perkataan bahwa boleh meninggalkan jihad. Dan paling utamanya jihad adalah meninggalkan jihad. Dengan begitu maka ayat-ayat yang datang berkenaan masalah jihad – menurut mereka- menunjukkan bahwa paling utamanya jihad hari ini adalah menahan diri dari jihad. Dan kemampuan yang dimiliki merekalah yang akan membukanya kapan saja mereka kehendaki dan mereka menutupnya kapan saja mereka kehendaki.

Urusannya tidak berhenti sampai sini, bahkan menjadi melampui batas sampai meniadakan I’dad untuk jihad. Mereka mengatakan wajib menahan dari berjihad sampai I’dad menjadi sempurna. Dan termasuk I’dad yang mereka maksud adalah meninggalkan I’dad. Sesungguhnya ini adalah cabang dari prinsip yang terdahulu yang mengatakan bahwa jihad merupakan beban yang tidak mampu dipikul.

PRINSIP KE DUA PULUH SATU : Berpolitik merupakan beban yang tidak mampu dipikul

Prinsip ke dua puluh satu dari idiologi ini adalah, mereka mengungkapkan bahwa amal siyasi (berpolitik) itu merupakan urusan yang tidak mampu dipikul oleh kaum muslimin… selanjutnya ia tidak mensyari’atkan beramal dalam siyasi, dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memberikan beban kecuali menurut kemampuan orang yang diberi beban, dan Allah tidak membebani hamba-Nya di dalam urusan dien dengan bertujuan menjerumuskan pada dosa dikarenakan kelemahan hamba tersebut dari melaksanakan yang diperintahkan, dan meninggalkan yang dilarang. Oleh karena ini termasuk kebesaran salafiyah menurut mereka adalah dengan tidak menyibukkan diri dalam amal siyasi…

Tidaklah itu semua mereka lakukan kecuali karena kebodohan mereka bahwa jalan-jalan amar ma’ruf dan nahi mungkar termasuk amal siyasi agar idiologi sekuler dan komunis tidak bercokol.

PRINSIP KE DUA PULUH DUA : Wajib memutuskan hubungan dan ujlah dari amal siyasi

Tatkala mereka ingin memisahkan manusia dari waqi’nya, maka mereka mengeluarkan fatwa haramnya seorang muslim masuk dalam amal siyasi atau dekat-dekat darinya, karena amal siyasi manjadi perangkap untuk menjatuhkan setiap orang yang mendekatinya walaupun hanya dengan perkataan, dan tidak ada yang memasukinya kecuali orang yang meletakkan kejelekan ghurbah (keterasingan) diatas kedua belah pundaknya, ia tidak dapat keluar dengan cepat, dan kalau tidak keluar darinya pasti ia marasakan kehinaan yang berkepanjangan.

Mereka menyeru para da’I wajib I’tizal (memisahkan diri) dari amal siyasi, dengan alasan bahwa amal siyasi merupakan kesia-siaan belaka, tidak ada kebaikannya sama sekali kecuali hanya untuk bersenang-senang saja. Mereka mengungkapkan bahwa mendekat-dekat dengan amal siyasi atau berkeliling disekitarnya seperti halnya pekerjaan pelayan yang berkeliling disekitar api, sehingga ketika sudah dekat ke api maka api tersebut membakarnya.

Mereka menjanjikan keselamatan dengan cara menjauhkan diri darinya. Dari sana salah seorang dari mereka berkata : “Bukanlah yang disebut orang yang pandai itu yang meninggalkan manusia bergaul dengan orang bodoh, akan tetapi yang disebut orang pandai adalah yang menggunakan perkumpulan dengan kepandaian dan meninggalkan kebodohan, dan termasuk disebut orang yang pandai adalah yang mengerti dimana ia berkumpul ? apakah jauh darinya ataukah dekat ?”….. sampai akhirnya kepandaian mereka menjadikan sebuah teka-teki.

PRINSIP KE DUA PULUH TIGA : Amal siyasi termasuk yang dilarang oleh syar’i. Para ulama dan da’I wajib menjauhinya

Termasuk prinsip mereka yang lalu, mereka menjadikan berkumpul dalam amal siyasi dan yang berkaitan dengannya termasuk yang dilarang oleh syar’I, dan tidak didapatkan pula (dalil) yang membolehkannya dalam memberikan keluasan dari daerah yang telah dilarang oleh syara’. Barang siapa yang bercampur dengannya maka ia telah bercampur dengan perbuatan dosa, dan siapa yang bertaubat darinya maka Allah menerima taubatnya.

Ia mewajibkan para ulama dan da’I untuk menjauhinya, jika (da’I) mau menjauhi para pelakunya maka itu lebih utama daripada bersaing dengan mereka di dalamnya, karena dengan berkumpulnya dia dengan mereka dapat mengguncang prinsip aqidah dan cabang syari’ah. Kalau memang harus ada amal siyasi bagi seorang muslim, maka tidak boleh melebihi batas teori saja, kalau melebihi batas teori maka hanya diperbolehkan mengungkapkan dengan kalimat yang meyadarkan, karena semua ini mereka kerjakan karena jama’ah-jama’ah islamiyah yang ada telah memberikan perhatian yang sangat besar terhadap aspek ini, sehingga mengucilkan perhatian manusia dari menuntut ilmu syar’I kepada amal siyasi.

Sebenarnya (apa yang mereka ungkapkan) itu merupakan seruan membahayakan (yang mengarah) pada sekulerisme, memisahkan dien dari daulah, apa yang untuk Allah untuk Allah dan apa yang untuk Kaisar untuk Kaisar. Dengan artian “Tinggalkanlah negara untuk penguasa dan tinggalkanlah agama dan masjid-masjid kepada para ulama”.

PRINSIP KE DUA PULUH EMPAT : Semua uslub dan sarana dakwah itu Tauqifiyah (paten)

Ketika mereka hendak menumpas jama’ah-jama’ah dakwah ilallah, maka mereka membuat satu prinsip yang rusak “Sesungguhnya semua uslub dan sarana dakwah itu tauqifiyah”. Itu bertujuan untuk menghilangkan semua uslub dan sarana (yang dibuat orang lain) dan melegitimasi apa yang menjadi pendapatnya…..

Kenyataannya semua uslub dan sarana (dakwah) tidaklah tauqfiyyah, karena itu bukan urusan yang ghoib dan bukan termasuk faridhoh-faridhoh dien, maka Allah tidak memerintahkan beribadah kepada kita dengan uslub tertentu dalam berdakwah, tidak pula dengan sarana yang khusus.

Kaum muslimin sama mendifinisikan tentang uslub dan sarana dakwah pada masa mereka dengan pendifinisian yang tidak terbatas, seperti halnya pendidikan yang teratur rapi, ijazah syar’I, mendirikan balai pendidikan dan universitas-universitas, mencetak buku dan majalah, mendirikan siaran radio, tape dan telivisi. Begitu juga dengan jama’ah dakwah dan jama’ah amar ma’ruf dan nahi mungkar, hisbah dan sebagian urusan yang tidak ada nash khusus di dalam al Qur’an dan as sunnah.

PRINSIP KE DUA PULUH LIMA : Tidak bekerja untuk menolong Islam

Dakwah yang ditekuni untuk mereka dan yang mereka curahkan pekerjaannya adalah merobohkan para da’I ilallah, mencela dan menjelekkan mereka…..inilah kesungguhan mereka dan pekerjaan mereka dalam rangka menolong dien Allah dan meninggikan kalimat-Nya di muka bumi.

Saya kira tidak salah kalau saya membagi hasad itu menjadi dua sisi, yaitu (sisi pertama) semua usaha yang telah mereka lakukan, dan (sisi kedua) dalam masalah dinar dan dirham.

PRINSIP KE DUA PULUH ENAM : Menghasud penguasa

Kita melihat mereka meminta bantuan kepada penguasa dalam rangka menghentikan lawan mereka, dan itu sebagai ganti dari hujjahnya.

Satu kaum ini tidak bisa memisahkan diri dari penguasa (dalam menghentikan) lawan mereka dalam memutuskan masalah ijtihadiyah. Itu merupakan celah untuk menggambarkan bahwa lawan mereka itu berbahaya bagi negara, oleh karena itu ia harus dilenyapkan. Dan dari mereka ada yang menulisnya dalam lembaran-lembaran Koran umum (untuk mengumumkan lawan mereka).

Adapun manhaj salaf bersama dengan para penguasa itu telah ma’ruf, mereka menjauhkan diri dari pintu-pintu penguasa, walaupun penguasa itu orang yang adil . karena (para salaf) mengikuti sabda shollallahu ‘alaihi wasallam :

مَنْ أَتَى أَبْوَابَ السُّلْطَانِ اُفْتُتِنَ

“Barangsiapa mendatangi pintu-pintu penguasa maka ia telah terfitnah”. Bagaimana kalau ia bekerja menghasud penguasa dan mengirimkan legitimasi dan kaset-kaset rekaman untuk menyebarkan sangkaan mereka dan untuk memata-matai syaikh….. imam At Tsauri berata :

إِذَا رَأَيْتَ الْعَالِمَ يُكْثِرُ الدُّخُولَ عَلَى اْلأُمَرَاءِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ لِصٌّ !

“Jika kamu melihat orang alim banyak masuk kepada para penguasa, ketahuilah bahwasanya ia adalah pencuri !”.

Perbuatan mereka sama halnya dengan perbuatan mu’tazilah dimasa al Ma’mun dan Al Mu’tasim ketika orang mu’tazilah meminta bantuan dengan cemeti penguasa (untuk menindak) ahlus sunnah, dan kisah mereka telah masyhur bersama dengan imam Ahmad.

PRINSIP KE DUA PULUH TUJUH : Menumbangkan para da’I sunnah terlebih dahulu sebelum ahlul firqoh

Adapun prinsip ke dua puluh tujuh dari prinsip kelompok yang menjadikan celaan kepada para da’I ilallah sebagai dien adalah, mereka berkata : “Bahwasanya ahlul bid’ah yang besar seperti rofidhoh, jahmiyyah, murji’ah dan laadiniyyin (sekuler) …… mereka ini telah diketahui perkaranya, jelas perbuatannya, oleh karena itu kita tidak boleh menyibukkan diri mengurusi mereka, akan tetapi kita wajib menyibukkan diri mengurusi para da’I ilallah untuk menerangkan kesalahan mereka, karena itu masih samar dikalangan manusia”.

Kita berlindung diri kepada Allah dari berbuat keji dari jalan kebenaran, dan kita meminta kepada Allah Jalla wa ‘Ala agar tidak membelokkan hati kita setelah diberi petunjuk.

Lihatlah ! Bagaimana mereka bisa membutakan mata dari orang-orang yang memerangi Islam, dan mereka sibuk memerangi wali-wali Ar Rohman dan para da’I ilallah !!! Meremehkan daging-daging mereka dan mengutamakan memerangi mereka, sebagai ganti dari menasehati mereka…Falaa Haula Wala Quwwata Illaa Billahil ‘aliyyil ‘Adzim.

PRINSIP KE DUA PULUH DELAPAN : Mensifati para da’I dengan sebutan orang yang sesat lagi menyesatkan

Mereka mudah memberikan (tuduhan telah melakukan) dosa besar (kepada para da’I ilallah), termasuk kata-kata yang mereka lontarkan adalah memberikan sifat kepada para da’I ahlus sunnah dengan “اَلضَّالُّ اَلْمُضِلُّ” (sesat menyesatkan) dan “اَلْخَبِيْثُ” (yang kotor), sifat ini diberikan kepada orang yang tidak melakukan perbuatan dosa besar dari dosa-dosa besar yang ada. Tidak diragukan lagi bahwasanya pensifatan ini kembali kepada orang yang mengatakannya. Na’udzubillah (kita berlindung diri) dari kekejian (yang mereka lakukan). Walaa haula walaa quwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim.

PRINSIP KE DUA PULUH SEMBILAN : Mencela para da’I lebih utama daripada sholat dan shoum

Prinsip yang ke sembilan belas dari prinsip idiologi ini adalah, beribadah kepada Allah dengan cara mencela dan melaknati orang-orang sholih. Seorang da’I muslim yang tanpa sengaja melakukan kesalahan dalam berij’tihad sudah menjadi sebab penghalalan kehormatannya, bahkan penghalalan darahnya.

Menegakkan celaan menurut mereka itu bebas, seperti اَلْخَبِيْثُ (orang yang berbuat keji) dan اَلْخَنِيْثُ (banci) dan اَلزِّنْدِيْقُ (orang kafir yang menampakkan keislaman) dan اَلْمُبْتَدِعُ (pelaku bid’ah), dan beberapa sifat yang mudah diucapkan oleh mereka disetiap kesempatan. Dan sifat-sifat tersebut mereka tujukan kepada para hamba Allah yang sholih tanpa mau mengaca dirinya sendiri, dan mereka menyangka bahwa perbuatan mereka ini diniatkan karena Allah. Seperti firman Allah :

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُم مَّالَيْسَ لَكُم بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِندَ اللهِ عَظِيمٌ

“(Ingatlah) diwaktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakana dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan asja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar”. (QS. An Nuur : 15).

PRINSIP KE TIGA PULUH : Ayat-ayat yang diturunkan untuk (menghukumi) orang kafir dipakai untuk (menghukumi) orang Islam

Inilah Kelompok yang menjadikan mencela kaum muslimin sebagai dien, ia berkehendak memakai dalil untuk manhajnya di dalam menjarh orang Islam, membid’ahkan mereka, memfasikkan mereka, menghalalkan kehormatan mereka, mengharuskan menjauhi dan menghajer para sholihin dari mereka, dan menolak dakwah mereka. Berkehendak menggunakan dalil pada manhajnya yang rusak itu dari Al Qur’an ….. maka mereka menjadikan dalil ayat-ayat yang diturunkan (untuk menghukumi) orang-orang kafir, ia (beralasan) bahwa para rosul datang untuk memisahkan antara anak dan bapak, suami dan istrinya, saudara dengan sudaranya, dan sebagian mereka mengarahkan dalil dalam pelajarannya bahwa Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam datang untuk memisahkan manusia. Mereka menjadikan hadits ini sebagai dalil wajibnya memecah belah diantara kaum muslimin. Maka Salafi bukan Ihwani, juga bukan Tablighi ….. Mereka mengikat wala’ dan baro’ hanya diantara penikut salafiyyin dan mereka, sebagaimana wala dan baro’ yang diberikan kepada orang-orang kafir…..!! Falaa haulaa walaa quwwata illa billah.

Hadits yang (menerangkan) permusuhan antara kaum muslimin dengan orang-arang kafir mereka bawa untuk mewajibkan permusuhan antara orang Islam sendiri… sebagian mereka menjadikan dalil dengan firman Allah Ta’ala :

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَآ إِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا أَنِ اعْبُدُوا اللهَ فَإِذَا هُمْ فَرِيقَانِ يَخْتَصِمُونَ {45}

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada (kaum) Tsamud saudara mereka Shaleh (yang berseru) : “Ibadahilah Allah”. Tiba-tiba mereka (jadi) dua golongan yang bermusuhan”. (QS. An Naml : 45).

(Mereka beranggapan bahwa ayat ini menerangkan) kedatangan nabi Sholih untuk memecah belah kaumnya, dan pengambil dalil ini berpendapat bahwa ini (menunjukkan) bolehnya memecah belah antar muslim satu dengan muslim lainnya !!! Ia mengikuti nabi Sholih ‘alaihis salam dalam memecah belah antara kaum mukminin dengan orang-orang kafir. Falaa haula walaa quwwata illaa billahil ‘aliyyil ‘adzim.

PRINSIP KE TIGA PULUH SATU : Mengumpulkan kejelekan para da’I dengan tujuan manjauhkan diri dari mereka.

Mereka telah menjadikan tujuan utama mereka dalam berda’wah kepada Allah berpijak atas kesalahan-kesalahan para da’I, mengumpulkan kejelekan dan menghafal kejelekan mereka dengan menulisnya di lembaran dan ucapan mereka… keseriusan mereka dalam menyebarkan kejelekan para da’I tersebut bertujuan manjauhkan manusia dari mereka, bukan bertujuan memperingatkan manusia dari terjerumus ke dalam kejelekan tersebut, atau menasehati orang-oarng yang terjerumus di dalamnya. Akan tetapi mereka bertujuan menjauhkan manusia dari da’I tersebut dan membuang semua kesungguhan dan semua kebaikannya, dan mereka bubarkan setiap yang ia bangun dan mereka mengharamkan kaum muslimin (mengambil) semua karangan dan ilmunya walaupun ada kemanfaatan yang baik.

Ini merupakan hizbiyyah yang besar dan merupakan usaha untuk mengadakan kerusakan di atas muka bumi. Kalaulah mereka mau berusaha mengumpulkan kejelekan-kejelekan para imam dan fuqoha’ sungguh mereka akan mendapatkan banyak sekali, dan jikalau mereka berusaha mengumpulkan ketergelinciran para fuqoha’ sungguh mereka akan dapat mengumpulkannya hingga tidak dapat menghitungnya. Syaikh Sulaiman At Taimi berkata :

لَوْ أَخَذْتَ بِرُخْصَةِ كُلِّ عَالِمٍ اِجْتَمَعَ فِيْكَ الشَّرُّ كُلُّهُ

“Jikalau engkau mengambil udzurnya setiap orang alim maka terkumpullaا di dalam dirimu semua kejelekan “

Syaikh Ibnu Abdil Barr berkata : “Kesepakan (ijma’) ini tidak aku dapati perselisihan di dalamnya”. (Dalam kitab Jami’u bayanil Ilmi Wa Fadzkihi : 2/91-92).

Dan tidak akan kita dapati seorang alim yang tidak membicarakan dalam masalah ini, kalaulah kita menyebutkan kejelekan atau ketergelincirannya (sungguh akan kita dapati kejelekan mereka) kecuali orang yang dirahmati oleh Allah !!!

Sekiranya (orang-orang) mau mengumpulkan ketergelinciran dan kesalahan para penjarh itu, baik yang didapatkan di dalam satu kaset atau bahkan dalam beberapa kaset, dalam satu kitab atau bahkan dalam beberapa kitab, dalam satu munadhoroh atau bahkan dalam beberapa muhadhoroh, sungguh cukup untuk menjatuhkan keadilan mereka dan cukup untuk membid’ahkan dan mengkafirkan mereka atas dasar prinsip-prinsip rusak mereka di dalam membid’ahkan, memfasiqkan, menuduh jahil dan pengkafiran yang mereka lakukan.

Mereka menyerukan, bahwa bahaya yang ia takutkan muncul pada (alam) islami adalah munculnya firqoh-firqoh yang sesat (menurut mereka). (Kemunculan firqoh-firqoh tersebut) lebih mereka takuti bahayanya daripada musuh-musuh yang terdiri dari pelaku syirik dan kelompok matrealis, dikarenakan firqoh-firqoh ini menyeru kepada Islam. Ia menuduh bahwa itu bukanlah Islam, cuman diarahkan ke dalam Islam, pada hakikatnya itu adalah ulat yang berjalan di dalam batang Islam dan cabangnya.

Pada waktu yang lain ia (Salafiyyin) melalaikan memerangi orang-orang kafir dan ahli bid’ah yang telah nampak, dikarenakan kelemahannya dalam menghadapi mereka.

PRINSIP KE TIGA PULUH DUA : Para Da’I lebih berbahaya atas Islam daripada orang-orang Yahudi, Nasrani dan Atheis

Sifat ini mereka berikan kepada para da’I ilalah, kepada jama’ah-jama’ah dakwah dan orang-orang yang menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar serta orang-orang yang memerintahkan untuk berbuat adil.

Para reformer yang bersungguh-sungguh dalam merubah kondisi ummat mensifati para da’I dan jama’ah-jama’ah dakwah dengan (ungkapan) bahwa dakwah mereka, amar ma’ruf – nahi mungkar yang mereka lakukan dan penegakan kebenaran mereka diangap lebih berbahaya atas ummat Islam daripada orang yahudi dan nassrani. Falaa haula walaa quwwata illaa billah. Wainnaa lillahi wainnaa ilaihi rooji’uun.

PRINSIP KE TIGA PULUH TIGA : Mendahulukan memerangi para da’I ilallah daripada memerangi orang yahudi

Tatkala mereka meyakini bahwa para da’I ilallah itu lebih berbahaya atas Islam daripada orang yahudi dan nasrani, maka tujuan yang mereka lakukan adalah mendahulukan memerangi para da’I illallah daripada memerangi orang-orang yahudi dan nasrani. Mereka berkata : “Sesungguhnya (kita) wajib) membuka aurot firqoh-firqoh (jama’ah-jama’ah) ini, menerangkan kesesatannya, mentahdzir dari dosa dan bahayanya, menelanjangi para da’I dan pemimpinnya serta memalingkan hati dan akal manusia darinya”. Bahkan mereka berpendapat bahwa menentang jama’ah-jama’ah dakwah itu didahululkan atas menentang orang kafir, munafiq, sekuler, atheis dan semua bentuk yang semisal dengan mereka.

Inilah sebab-sebab (disebutnya) khowarij pada zaman dahulu dan pada zaman sekarang, sebagaimana yang telah rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam sifatkan :

يَقْتُلُونَ أَهْلَ اْلإِسْلاَمِ وَيَدْعُونَ أَهْلَ اْلأَوْثَانِ

“Mereka (khowarij) memerangi orang Islam dan meninggalkan penyembah berhala” (HR. Bukhori. 3344).

PRINSIP KE TIGA PULUH EMPAT : Menghukumi niat dengan tanpa bukti

Prinsip yang ketiga puluh empat menurut mereka, bahwa mereka tidak cukup menghukumi sesuatu dengan dhohirnya. Bahkan mereka telah menjarh orang-orang yang menampakkan kebaikan dan dakwah kepada sunnah dan kebaikan. Tatkala mereka berijtihad kemudian belum mendapatkan celaan yang besar, maka mereka merobohkan dengan celaan tersebut kepada orang-orang yang ia kehendaki, kemudian mereka menuduh niat mereka, dan mereka berkata “Tidaklah para da’I illallah itu berdakwah kepada sunnah kecuali untuk merobohkannya” dan “Tidaklah mereka beriltizam dengan salafiyyah kecuali untuk memeranginya”. Dari itu semua maka mereka selalu (menuduh) manusia dengan dasar sangkaan belaka tanpa dalil yang rojih, ini merupakan racun dari racun-racun manhaj mereka yang tidak laku.

PRINSIP KE TIGA PULUH LIMA : Kesalahan sebagian para da’I dalam beberapa masalah ilmiyah dianggap sebagai kesalahan yang lebih besar daripada kesalahan di dalam malakukan suatu masalah.

Sungguh para penjarh itu telah menjadikan kesalahan dalam masalah ilmiyah yang dilakukan sebagian da’I, dianggap lebih besar daripada kesalahannya dalam masalah amaliyah secara mutlak.

Oleh karena inilah, maka mereka tidak menyebutkan kelaliman para pemimpin di daerah Islam, dan mereka tidak mencela para penguasa yang melakukan kerusakan dan menghalang-halangi dari jalan Allah … mereka tidak berani menyebutkan hal tersebut dikarenakan menurut mereka hal tersebut tidak membawa kepada kefasikan amal. Berbeda dengan ketika mereka menampakkan cacian kepada para da’I yang melakukan kesalahan dalam masalah ilmiyah, padahal para penguasa itu memenuhi isi dunia ini dengan kelaliman dan kerusakan.

Mereka menggunakan dalil dengan perkataan sebagian ahli ilmu :

اَلْبِدْعَةُ شٌَّر مِنَ الْمَعْصِيَةِ

“Bid’ah itu lebih jelek daripada ma’siyat”. Itu tidaklah benar secara mutlak, dikarenakan kesalahan itu terkadang nisbi disebabkan ijtihad yang berbeda, dan terkadang pelakunya diberi pahala kalau ia seorang mujtahid.

PRINSIP KE TIGA PULUH ENAM : Mereka memposisikan diri sebagai imam ahlus sunnah yang besar dalam membid’ahkan selain mereka

Mereka beralasan dengan perkataan (imam) At Tsauri dan Al Auza’I dalam membid’ahkan salah seorang imam yang termasyhur, (untuk mendukung) perbuatan mereka dalam membid’ahkan dan menyesatkan orang lain.

Maka hal seperti ini tidak diragukan lagi merupakan qiyas (analogi) yang jauh berbeda (salah). Hanyasanya itu dibolehkan bagi imam At Tausri dan imam lainnya dari para imam salaf disebabkan keilmuan yang mereka miliki, dan disebabkan amal serta penerimaan diantara manusia. Dan (jauh berbeda) antara keadaan para imam dengan mereka orang-orang yang gegabah lagi tergesa-gesa.

PRINSIP KE TIGA PULUH TUHJUH : Selalu menyebutkan kesalahan para da’I

Prinsip ke tiga puluh tujuh dari prinsip-prinsip mereka yang bid’ah adalah bahwa mereka selalu menyebutkan kejelekan da’I dan kaum muslimin, itu semua bertujuan (agar manusia) lari dari para da’I tersebut dan menjauhkan manusia dari mereka dan mentahdzir dari menunut ilmu kepada mereka dan beriltizam kepada mereka. Dan mereka (melarang) orang-orang awam mendengarkan manhaj mereka dengan (perkataan) “Inilah manhaj ahlus sunnah dalam mengkritik”.

Pada hakikatnya manhaj ini adalah manhaj ahli bid’ah dan rofidhoh. (Yaitu) orang-orang yang selalu menyebutkan (sesuatu dikarenakan) hatinya sakit (tidak senang) kepadanya. (Yaitu) mereka selalu menyebut kesalahan dan kealpaan serta kejelekan para shahabat dan membuang kebaikan serta kesungguhan mereka, dan mereka selalu menyebutkan kesalahan ahlus sunnah dengan tujuan agar manusia lari dari mereka. (Dalam hal ini maka) mereka telah mengambil manhaj rofidhoh, dan mereka pun memerintahkan kepada manusia untuk mantahdzir para da’I, orang-orang sholih dan ahlul khoir untuk selalu mencari dan memburu kesalahan dan kekeliruan mereka. Dari sana mereka mentahdzir manusia dari para da’’I terseut sebagai ganti dari menasehati dan mendo’akan mereka kepada kebaikan dan memperingatkan kesalahan yang mereka lakukan agar mereka berhati-hati dan menjauhkan diri darinya. Mereka membiarkan para da’I dalam pendirian (yang ia pijaki) dalam menolong al haq (kebenaran), memuliakan addien dan menyebarkan al Islam.

Bahkan para penjarh itu menolak semua kebaikan para da’I, sampai jihad fiesabilillah yang mereka lakukan, dan mereka berpendapat bahwa sholat mereka (para da’I), shiyam, haji dan ibadah mereka tidak ada manfaatnya disisi Allah, dikarenakan mereka terjerumus ke dalam kesalahan walaupun sedikit, (padahal kesalahannya) tidak sampai mengeluarkannya dari Islam dan memasukkannya ke dalam bid’ah. Innalillahi wainna ilaihi roji’un.

PRINSIP KE TIGA PULUH DELAPAN : Menggunakan kata mujmal (umum)

Mereka selalu menggunakan kata mujmal dalam mencela, dengan tujuan agar orang yang mendengar selalu membayangkan makna yang negatif dan menerima mentah-mentah dari yang mereka inginkan. Seperti pemakaian kalimat “اَلتَّهْيِيْجُ” dan “اَلتَّلْمِيْعُ” dan “اَلتَّمْيِيْعُ” dan lain sebagainya.

Seperti itu sama halnya dengan keadaan ahli bid’ah yang menggunakan kata-kata “اَلْجُهَةُ” dan “َاَلْجِسْمُ” “اَلتَّرْكِيْبُ”. Mereka menghendaki kata-kata ini dengan makna khusus untuk (para da’I). Begitu juga kelompok penjarh ini (dengan kata-katanya ) menghendaki sebagai berikut :

اَلتَّهْيِيْجُ : Mengingkari kemungkaran

اَلتَّلْمِيْعُ : Memuji orang yang melakukan kebid’ahan, sebagaimana yang dilakukan oleh para ulama Islam pada masa shahabat hingga keluarlah kelompok ini.

اَلتَّمْيِيْعُ : Berbaik sangka pada orang yang melakukan kesalahan dan memberi udzur kepadnya.

Ini semua benar sebagaimana yang kalian lihat, akan tetapi mereka mencampurnya dengan kata-kata yang mujmal dengan yang mutlak dalam rangka merusak dan memukul.

Ibnu Qoyyim berkata :

فَعَلَيْكَ بِالتَّفْصِيْلِ وَالتَّمْيِيْزِ فَاْلإِطْلاَقُ وَاْلإِجْمَالُ دُوْنَ بَيَانٍ

قَدْ أَفْسَدَا هَذَا الْوُجُودِ وَخَبَطَا اْلأَذْهَانَ وَاْلآرَاءَ كُلَّ زَمَانٍ

“Hendaknya kamu menggunakan (kata) yang tafsil, tamyiz, maka yang mutlak dan mujmal tanpa diberi keterangan. Keduanya (mutlak dan mujmal) telah meruasak keadaan ini dan meresahkan hati dan pandangan disetiap waktu”.

Dan termasuk dalam masalah ini, yaitu penggunaan kata “Al manhaj” tanpa ditambah keterangan yang dimaksud. Karena penyebutan kalimat “Al manhaj” dengan secara mutlak akan menjadikan salah faham orang yang mendengarnya, lalu ia akan menggunjing orang yang tidak memakai perkataan mereka. Inilah tipu daya yang dianggap baik oleh ahlu bid’ah, karena sesungguhnya “Almanhaj” merupakan kalimat yang dapat dimengerti (maksudnya) jika ditambahkan (keterangan) yang dimaksud.

Maka kalau yang dimaksud dengan manhaj itu adalah “Manhaj ‘Aqidah”, maka maksud manhaj disini adalah prinsip-prinsip yang telah disepakati oleh para salaf dan merupakan kaidah-kaidah umum yang dengannya manusia memahami al kitab dan as sunnah, dan mereka meninggalkan firqoh yang sesat. Yaitu (merupakan) persoalan ilmiyyah dan dasar umum yang tetap lagi mafhum. Dan orang-orang yang menyelisihinya merupakan mara bahaya dan murupakan kebid’ahan yang tercela.

Dan kalaulah yang dimaksud dengan manhaj itu adalah “Manhaj Istidlal” dalam dasar-dasar fiqih dan cabangnya, maka dalam hal tersebut (boleh terjadi) ikhtilaf (perselisihan). Seperti halnya perselisihan dalam masalah ijma’ yang mereka butuhkan di dalamnya, perselisihan dalam qiyas, mengenai syari’at orang-orang sebelum kita, dan dalam masalah-masalah madzhabiyyah, yang mana para salaf pun saling berselisih (berbeda pendapat), dan itu tidak akan mengeluarkan seseorang dari ahlus sunnah, (kecuali) kalau disana sudah ada (perkara) yang baku (yang telah ditetapkan) dalam manhaj istidlal, maka orang yang menyelisihinya menjadi bid’ah yang tercela.

Contoh dalam masalah tersebut adalah perselisihan dalam beristidlal dengan hadits. Seperti persyaratan dalam laqob dan berhujjah dengan hadits mursal dan majhul. Para salaf memberikan toleransi menggunakan hadits dho’if dalam masalah Targhib (anjuran) dan Tarhib (ancaman), dan yang semisal itu dalam perkara-perkara madzhabiyyah yang diperbolehkan ikhtilaf di dalamnya, karena diantara ahlus sunnah pun beriktilaf di dalam masalah tersebut. Adapun orang yang salah (dalam masalah tersebut) tidak mengeluarkannya dari ahlus sunnah.

Adapun kalau yang dimaksud dengan manhaj itu adalah “Manhaj Dakwah”, maka perkaranya lebih mudah, dikarenakan manhaj dakwah ada yang tsabit (baku) dan ada yang taghyir (nisbi). Adapun yang nisbi seperti halnya pijakan dalam dasar-dasar yang telah disepakati oleh salaf, mendahulukan aqidah dan mengambil bantuan dari as sunnah serta membuang bid’ah.

Adapun yang termasuk dalam kaidah taghyir (nisbi dalam manhaj dakwah) adalah (sesuai) berubahnya waktu dan tempat serta orang yang di dakwahi, seperti halnya masuk ke dalam lembaga MPR dan amal jama’I yang munaddlom (teratur), dan yang semisalnya dari sesuatu yang terkadang baik kalau dijadikan manhaj dakwah di sebuah negeri dan pada waktu tertentu.

Yang di maksud (dengan menggunakan kata manhaj adalah), bahwa kata manhaj itu harus diuraikan dan diterangkan atas masalah-masalah dengan berdasarkan ilmu…

Adapun pemutlakan kalimat “Manhaj Ini”, kemudian kalimat “Ia menyelisihi kami dalam manhaj”. Kemudian kalimat “Bertentangan dengan Manhaj”, dan kalimat “Bukan di atas manhaj salafi”, Maka cara yang seperti ini adalah cara yang digunakan oleh ahli bid’ah….. wallahul musta’an.

PRINSIP KE TIGA PULUH SEMBILAN : Tuduhan yang mereka lontarkan dengan menggunakan kata-kata “BUKAN DI ATAS MANHAJ SALAF” ATAU “BUKAN DI ATAS MANHAJ AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH”, dan seakan-akan merekalah pewaris tungal ‘Arsy salafiyah.

Para penjarh itu membuat tuduhan dengan ungkapan “ Ia bukan dari manhaj salaf “, ini adalah ungkapan mujmal yang bisa membawa mereka kepada pengkafiran dan mengeluarkan dari ahlus sunnah wal jama’ah serta firqoh an najiyah… mereka pergunakan kalimat ini untuk orang yang berselisih dalam urusan ijtihad yang diperbolehkan berselisih di dalamnya, seperti berhubungan dalam lembaga MPR yang bertujuan mengadakan perbaikan dan menolak kejelekan di dalamnya, dan seperti perkataan mereka “Bahwa sarana dakwah itu tauqifi (paten) “.

Kalimat ini adalah kalimat yang besar, dan merupakan istilah yang membahayakan, karena ini bisa membawa para penjarh ini kepada pengkafiran kepada orang yang tidak kafir, dan membid’ahkan orang yang tidak bid’ah dari kaum muslimin, yang mereka beriman kepada Al Qur’an dan as sunnah dan tidak keluar dari yang telah disepakati oleh ummat dan mereka beraqidah dengan aqidah salaf dalam masalah mengimani asma’ dan sifat Allah dan semua urusan ghoib, dan mereka tidak mendahulukan perkataan seorangpun di atas firman Allah dan sabda rosul-Nya. Akan tetapi mereka terkadang berikhtilaf dalam perkara furu’ dalam ijtihad yang dibolehkan berikhtilaf di dalamnya.

Mereka menyebut (para da’I) dengan kalimat ini “Bukan termasuk manhaj salaf” dan “Bukan termasuk ahlus sunnah wal jama’ah”, padahal kalimat ini disebutkan untuk orang-orang yang menggunakan prinsip yang menyelisihi prinsip ahlus sunnah, seperti mengingkari sunnah secara terang-terangan atau masuk ke dalam kebid’ahan aqidah, seperti khowarij, rofidhoh, murji’ah, jahmiyyah dan qodariyyah, atau mendahulukan akal dan hawa nafsu atas nash-nash dari Al Qur’an dan as sunnah, atau memisahkan antara dien dan siyasah (politik) ….. dan yang semisal itu daripada bid’ah aqidah yang bisa merobohkan dien atau merobohkan bagian dari dien.

PRINSIP KE EMPAT PULUH : Menggunakan senjata Hajr pada pelaku bid’ah

Menghajr pelaku bid’ah merupakan salah satu sarana syar’I untuk mengadakan perbaikan, dan itu termasuk prinsip ahlus sunnah wal jama’ah. Ahlus sunnah menggunakan hajr ini untuk memerangi kebid’ahan dan meminimalisasi bahaya dan kejelekannya, dan mentahdzir pelakunya. Ahlus sunnah telah menetapkan batasan-batasannya sebagai berikut :

Bahwa menghukumi (seseorang) telah menjadi pelaku bid’ah itu diserahkan kepada orang alim, yaitu orang-orang yang bisa membedakan antara sunnah dan bid’ah. Karena para shahabat rhodhiyallahu ‘anhum mengembalikan urusan mereka kepada para ulama sebelum menghukumi perkara yang baru, sebagaimana shahabat Abu Musa Al Asy’ari ketika melihat orang-orang membuat halaqoh (majlis melingkar) di dalam masjid, dan di tegah-tengah majlis itu ada sebuah tongkat, dan setiap halaqoh ada seorang yang mengomando mereka dengan perkataan “Bertasbihlah kalian sebanyak seratus kali “ lalu mereka bertasbih seratus kali, “Bertakbirlah kalian sebanyak seratus kali” lalu mereka bertakbir seratus kali. (Ketika Abu Musa Al Asy’ari melihat hal yang baru seperti ini) ia tidak tergesa-gesa memutuskan hukum kepada mereka sampai ia bertanya meminta pendapat sahahabat Abdullah ibnu Mas’ud dalam masalah tersebut. (HR. Ad Darimi : 208).

Begitu juga para shahabat selalu mengembalikan urusan mereka kepada shahabat Abdullah ibnu Umar ketika muncul (gerakan) Qodariyyah, dan mereka mengembalikan urusan mereka kepada sahahabt Ali ibnu Abi Tholib ketika muncul (gerakan) Khowarij.

Dan termasuk prinsip ahlus sunnah, bahwa hajr itu digunakan untuk mendidik, dan itu disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi orang yang dihajr, dikarenakan hajr itu untuk merealisasikan kemaslahatan syar’I, dan maslahah syar’iyah jika terjadi percampuran (antara maslahah dan madhorot) maka wajib berjalan kepada maslahah syar’iyyah.

Secara umum, hajr syar’I itu tidak dilakukan kecuali untuk merealisasikan kemaslahatan syar’iyyah yang agung.

Adapun para penjarh itu menggunakan hajr ini sebagai senjata untuk memerangi Islam dan memecah belah kaum muslimin, maka mereka mencetak anak kecil yang belum baligh menjadi penjarh dan hakim atas manusia dengan membid’ahkan dan mensunnahkan, dan mereka memerintah menghajr semua da’I dan jama’ah yang ada dan semua orang yang berbuat salah menurut mereka … maka tidak ada yang tersisa ahlus sunnah wal jama’ah dari kaum muslimin kecuali terkena hajr mereka.

Kemudian mereka mengikat diri mereka, lalu membid’ahkan sebagian dengan sebagian yang lain, menghajr sebagian dengan sebagian yang lain, begitulah senjata yang mereka pergunakan… dengan ini maka para penjarh ini telah merubah senjata hajr yang digunakan oleh ahlus sunnah untuk menghajr pelaku bid’ah untuk memerangi kebid’ahannya, dijadikan oleh mereka untuk memerangi islam dan sunnah. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’uun, wala haula wala quwwata illa billah.

PRINSIP KE EMPAT PULUH SATU : Menggunakan perkataan salaf dalam mentahdzir ahli bid’ah atas para da’I yang komitmen kepada ahlus sunnah wal jama’ah

Dari kebesaran mereka, bahwasanya mereka mengambil nash-nash salaf dalam mentahdzir ahli bid’ah dan memperlakukan mereka tidak selayaknya, dan itu mereka pergunakan untuk mentahdzir orang sholih dari ahlus sunnah wal jama’ah. Atas dasar manhaj mereka yang rusak ini “Bahwa Semua orang yang terjerumus dalam kebid’ahan maka ia adalah mubtadi’ “, maka dengan itu mereka telah mengeluarkan manusia banyak dari ahlus sunnah wal jama’ah, padahal orang tersebut tidak menyerukan kebid’ahan, walaupun sebagian mereka ada yang melakukan kesalahan, dan menjadi penta’wil seperti al Hafidz Ibnu Hajar dan Imam An Nawawi dari kalangan para imam ulama rohimahumallah, dan selain keduanya …..

Tatkala sebagian dari merka melihat bahaya (kesalahan dan penta’wilan) tersebut, maka mereka membid’ahkannya, banyak dari para ulama yang kembali dari membid’ahkan para orang terdahulu, dan mereka berlanjut membid’ahkan para da’I sekarang, karena disebabkan para da’I telah melakukan sebagian kesalahan yang sebenarnya tidak sampai mengeluarkan mereka dari ahlus sunnah wal jama’ah, dan itu lebih remeh dibandingkan dengan imam Al Hafidz Ibnu Hajar dan Imam Nawawi rohimahumallah…

Diantara mereka ada yang melakukan Taqiyyah sebagai dien, maka ia membid’ahkan orang-orang terdahulu secara diam-diam. Na’udzubullahi (kita berlindung diri kepada Allah) dari segala perbuatan keji, wala haula wala quwwata illa birohman.

Apakah mereka tidak mau mengikuti kaidah-kaidah ahlus sunnah wal jama’ah dalam membid’ahkan sebagai ganti dari penetapan mereka pada beberapa kaidah yang akan menyampaikan kepada mereka membid’ahkan ummat terdahulu secara keseluruhan, bahkan jikalau mereka terbiasa menggunakan kaidah-kaidah pembid’ahan yang mereka buat menurut ukuran mereka sungguh mereka telah menjadi sejelek-jelek ahli bid’ah !!!

PRINSIP KE EMPAT PULUH DUA : Menguji para da’I dengan sikap sebagian ahli ilmu

Tatkala mereka membid’ahkan sekumpulan para da’I dan ahli ilmu yang tidak melakukan kebid’ahan yang hakiki, maka mereka berpindah menguji manusia dengan membatasi sikap dari orang yang mereka seru. Maka siapa saja yang tidak mengatakan seperti apa yang mereka katakan maka mereka mengeluarkan orang tersebut dari kelompok salafiyyah, dan siapa saja yang berkata sesuai perkataan mereka maka ia disebut salafi yang hakiki menurut mereka.

Dengan itu maka slafiyyah akan menjadi timbangan tersendiri menurut satu kelompok. Syaikhul Islam dalam risalahnya telah memperingatkan penduduk Bahroin yang meyakini bahwa – orang kafir akan melihat Robnya di hari kiyamat -, sebagaimana perkataan beliau dalam risalahnya : “Dan termasuk prinsip ahlus sunnah, bahwa tidak seyogyanya bagi ahli ilmu menjadikan masalah ini sebagai bencana yang bisa menjadikan renggang antara saudara-saudara mereka, dikarenakan yang seperti ini dibenci oleh Allah dan rosul-Nya”.

PRINSIP KE EMPAT PULUH TIGA : Menuduh kafir orang yang bertentangan dengan mereka

Prinsip ini dijadikan oleh pengikut kelompok ini sebagai senjata dalam memerangi orang yang menentang mereka daripada para da’I dan orang-orang sholih.

Kemudian mereka menuduh para da’I itu dengan sebutan kelompok yang keras kepala yang tidak bisa berlapang dada dalam penyebutan laqob jahiliyyah atau kalimat kufur paad lisannya. Kelompok ini menghukumi jutaan masyarakat muslim dengan menyebutnya masyarakat jahiliyah dan kufur.

Dan mereka menuduh para pengikut da’I tersebut dengan sebutan orang-orang yang haus dalam menghukumi manusia dengan kekafiran dan nifaq, dan mereka mensifati masyarakat Islam dengan masyarakat jahiliyyah dan menelanjangi secara keseluruhan dari dien.

PRINSIP KE EMPAT PULUH EMPAT : Mereka meninggalkan Al Haq jika alhaq itu dilakukan juga oleh orang yang tidak sama dengan mereka

Termasuk dari prinsip mereka yang rusak adalah, mereka meninggalkan al haq dikarenakan orang yang bertentangan dengan mereka berkata dan mengamalkan kebenaran tersebut, dan itu mereka jadikan sebagai alasan untuk mengenal al haq. Oleh karena itu mereka menghukumi perkataan atau perbuatan yang dilakukan orang lain tersebut batil, dikarenakan orang tersebut adalah “ikhwanul muslimin”, atau orang tersebut adalah “Jama’ah tabligh” atau selain mereka.

Dengan ini mereka berkata “Ini adalah manhaj Ikhwan” atau “ ini adalah manhaj Jama’ah Tabligh”

PRINSIP KE EMPAT PULUH LIMA : Sikap mereka bertentangan dengan fatwa imam ahlus sunnah

Ketika mereka mendapatkan fatwa dari salah satu ulama sunnah – baik yang terdahulu maupun yang sekarang – ia mencela dari fatwa tersebut dengan berpura-pura setuju pada sebagian pendapat para ulama, dan mereka menganjurkan manusia dengan fatwa tersebut karena itu termasuk menghormati ahli ilmu dan kembali kepada perkataan mereka. (Akan tetapi) ketika muncul fatwa dari sebagian ulama yang berselisih dengan ijtihad sebagian syaikh dalam beberapa masalah yang tidak sesuai dengan pendapat mereka, maka dalam kondisi seperti ini mereka beriltizam kepada syaikh tersebut dengan membuang pendatnya dan kembali kepada pendapat ulama tersebut dengan tanpa melihat dalil kedua belah fihak dan hujjah mereka serta apa yang wajib ia perbuat dalam menghadapi dua perselisihan ini.

Adapun jika datang fatwa yang membongkar prinsip mereka yang tidak laku tersebut, seperti dalil mereka tentang amal jama’I, atau bekerjasama dalam parlement, maka mereka menolaknya walaupun fatwa tersebut dari satu orang alim yang sebelumnya ia mencari fatwa kepadanya.

Mereka menampakkan sikap dalam masalah ini dengan berwajah salafi atsari yang menyeru kepada meninggalkan taqlid dan tidak saklek dengan perkataan ulama, dan mereka berbicara kepada kamu tentang manhaj istidlal menurut salaf … Maka hendaknya kita berlindung diri kepada Allah dari mengikuti hawa nafsu.

PRINSIP KE EMPAT PULUH ENAM : Mendidik anak-anak dengan menggunjing, mencaci dan mencela.

Prinsip ke empat puluh enam ini merupakan prinsip yang dilakukan oleh mereka, yaitu mengajari anak-anak penuntut ilmu dengan mencela dan menjarh manusia sebelum mengenalkan mereka rukun-rukun iman, dasar-dasar akhlak dan hukum-hukum dalam ibadah….. Mereka memulai mengajari para remaja sejak kecilnya dengan mengenalkan bahwa fulan ini salah dalam masalah ini, telah berbuat bid’ah dalam masalah ini, ini adalah orang ‘alim yang zindiq karena ia telah berbuat begini, dan orang itu sesat karena telah berbuat seperti ini.

Semua perkara ini membahayakan bagi dien dan dirinya, mereka memposisikan diri seperti imam Ahmad ibnu Hambal yang menjadi imam ahlus sunnah wal jama’ah, dan menjadi pengkritik seperti Yahya ibnu Ma’in, menjadi imam dalam Jarh dan Ta’dil yang memilih para perowi dan menjarh para majruhin (orang yang dijarh) ….. Falaa Haulaa Walaa Quwwata Illa Billahi Robbil ‘Alamien.

Sungguh sangat rusak pengkiyasan (penganalogian) ini, para ulama jarh dan ta’dil selalu mencurahkan waktunya untuk mengelompokkan para perowi agar diketahui siapa yang meriwayatkan hadits darinya daripada orang yang terlarang meriwayatkan hadits darinya. Adapun mereka (salafiyyin) mencurahkan waktunya untuk menjarh para ulama Islam dan para da’I agar manusia lari dari mereka.

Imam ahlus sunnah (seperti) imam Ahmad ibnu Hambal dan selain beliau dari para ulama tidak duduk untuk mengelompokkan para perowi kecuali setelah mereka menempati martabat para imam yang ‘alim, yaitu orang-orang yang bisa menimbang dan mengelompokkan para perowi. Adapun para pemuda (salafiyyin) itu telah membuat tipu daya kepada anak-anak yang mayoritas tidak mengerti perbedaan antara yang sunnah dan yang bid’ah, tidak bisa menjarh satu perkataan atas perkataan yang lain, tidak bisa membedakan antara yang rukun dan yang wajib, dan tidak mengerti maslahah dan mafsadah dalam dua mafsadah, atau (tidak bisa) mengambil yang lebih utama dalam dua kemaslahatan.

PRINSIP KE EMPAT PULUH TUJUH : Meniadakan Tauhid Hakimiyyah dari (pembagian) Tauhid

Ketika gerakan bid’ah gaya baru ini tegak dalam salah satu misinya, yaitu menolong para pemimpin dan meniadakan faridhoh (kewajiban) jihad dan sebagian bentuk amar ma’ruf – nahi mungkar, dan menjelekkan semua para da’I yang berhukum kepada syari’at Allah, maka sesungguhnya mereka telah menuntut kembali berhukum dengan syari’at Allah di muka bumi. (Menurut mereka) ungkapan istilah “Tauhid Al Hakimiyyah” merupakan kebid’ahan di dalam dien. Karena istilah itu tidak didapatkan dalam pembagian tauhid.

Mereka adalah orang yang bodoh, karena para shahabat memang tidak pernah membagi tauhid secara istilah dengan pembagian Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma’ wa Sifat, ini adalah istilah baru. (Pembagian) yang seperti itu adalah benar, karena orang kafir Quraisy membedakan antara iman kepada Allah dengan Allah subhanahu wa Ta’ala sebagai Rob (penguasa) dan Pengurus seluruh jagat ini, dan Allah sebagai Ilah yang tidak ada Ilah selain-Nya yang tidak layak diibadahi selain-Nya.

Maka tauhid yang diakui oleh (kebanyakan) manusia sebagai keimanan adalah yang Rububiyyah, sementara yang diingkari manusia adalah yang Uluhiyyah.

Tatkala muncul dari kalangan kaum muslimin yang memecah antara sifat Allah dan sifat-Nya yang lain, serta mengimani sebagian nama Allah dan sifat-Nya serta mengkafiri sebagiannya, maka para ulama ahlus sunnah menyebut beriman kepada semua asma’ dan sifat Allah itu dengan sebutan “Tauhid Asma’ dan Sifat”, itu bertujuan untuk menjelaskan bahwa ini masuk ke dalam iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka iman yang benar kepada Allah itu mencakup iman kepada semua yang Allah sifati pada diri-Nya sendiri dan yang telah disifati oleh rosul-Nya.

Sekarang, tatkala muncul dari kalangan kaum muslimin yang mengatakan “Kami beriman bahwa Allah sebagai Rob dan Ilah, dan kami tidak mengimani bahwa Ia sebagai Hakim (penguasa) seluruh jagat raya ini, bahkan kami mengatur urusan dunia ini dengan kehendak kami”. Mereka menyerukan ini untuk memisahkan antara dien dan daulah (agama dan negara), dan memisahkan dien dari urusan perpolitikan dan perekonomian, maka para ulama Islam menentang kebid’ahan gaya baru ini yang disebut dengan “Sekulerisme”, dan para ulama Islam menerangkan bahwa seseorang itu tidak disebut Islam kecuali mengimani bahwa Allah subhanahu wa Ta’ala itu sebagai hakim dan bahwasanya hukum itu hanya milik-Nya.

(Pembagian tauhid Mulkiyyah) ini bukanlah termasuk kebid’ahan di dalam dien, atau membuat kebid’han dalam iman dan tauhid, akan tetapi termasuk dalam rukun-rukun tauhid adalah mengesakan Allah ‘Azza wa Jalla dalam Hakimiyyah dan mendahulukan berhukum kepada Allah dan rosul-Nya serta mendahulukan taat kepada Allah dan rosul-Nya atas taat dan berhukum kepada orang lain, dan beriman bahwa hukum hakimiyyah hanya milik Allah. Barangsiapa yang ridho dengan hukum selain hukum Allah dalam setiap urusan maka ia telah kafir kepada Allah, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

أَلَمْ تَرَ إٍِلَى الَّذِيْنَ يَزْعُمُوْنَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيْدُوْنَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ

“Apakah kalian telah melihat orang-orang yang mengira bahwa mereka telah beriman kepada apa yang telah diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada orang sebelum kamu, mereka hendak berhukum kepada thoghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengkufuri thoghut”. (QS. An Nisa’ : 60)

dan pada akhir ayat :

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَيُؤْمِنُوْنَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاِيَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا

“Maka demi Robmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga merea menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS. An Nisa’ : 65).

Orang-orang yang meniadakan tauhid hakimiyyah menyangka bahwa tauhid hakimiyyah itu bukan termasuk tauhid, karena orang yang berhukum dengan selain hukum Allah itu disebut “Kufrun Duuna Kufrin” (kekafiran yang tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari Islam). Demikian secara mutlaknya ! Mereka tidak membedakan antara orang yang menganggap bahwa hukum buatan manusia itu lebih utama atau sama dengan hukum Allah dibandingkan dengan orang yang melakukan kesalahan atau (salah dalam) manafsirkan atau menghukumi dengan keputusan satu selain dari yang diturunkan oleh Allah.

Secara mutlak pendapat mereka adalah bahwa berhukum dengan selain hukum yang telah Allah turunkan itu hukumnya “Kufrun Duuna kufri”, mereka didatangkan kepada manusia yang berhukum kepada selain hukum Allah dan ridho dengan selain hukum Allah, dan mereka memberikan piagam kepada orang-orang yang mengganti syari’ah Allah, dan apa yang mereka lakukan dalam memerangi syari’at Allah hanyalah kemaksiyatan yang tidak sampai mengeluarkan mereka dari Islam …. Kita berlindung diri kepada Allah dari perbuatan keji, wala haula wala quwwata illa billah.

PRINSIP KE EMPAT PULUH DELAPAN : Tidak disebut kafir kecuali kalau mendustakan (syari’at)

Sebagian dari mereka menyatakan bahwa kekurufan itu terjadi dikarenakan mendustakan (syari’at). Pernyataan ini secara jelasnya adalah pernyataan Jahm bin shofwan dan Basyar al Murisyi, Ibnu Ar Rowanidi, as Sholihi dan selain mereka dari kelompok Jahmiyyah. Oleh karena itu, tatkala mereka merealisasikan prinsip ini pada zaman sekarang, maka orang yang melanggar syari’at secara keseluruhan dan berhukum dengan undang-undang orang kafir serta memerangi orang yang menyeru untuk berhukum kepada syari’at (Allah) bukan menjadi kafir, karena kekafiran itu disebabkan pendustaan (terhadap syari’at).

Begitu juga orang yang membuka pintu masuknya kelompok-kelompok sekuler yang kafir dan membuka yayasan-yayasan, birokrasi-birokrasi, majlis-majlis dan muktamirot serta lembaran-lembaran yang menyerukan idiologi mereka dan membujuk manusia untuk mengikutinya dan menghina dien serta memperolok-olokkan syi’ar-syi’arnya maka ia tidak disebut kafir.

Ketahuilah ! Ketika para masaakin itu hendak mencuekkan kelaliman para penguasa kafir, dan mereka mencari keridhoan para panguasa, maka mereka telah tergantung dengan madzhab murjiah yang batil di dalam masalah iman yang diterapkan kepada para penguasa. Madzhab murjiah ini dibangun atas keyakinan bahwa jenis amalan itu termasuk kesempurnaan iman, bukan rukun daripada rukun-rukun iman sebagaimana yang dinyatakan oleh ahlus sunnah, dan menurut ahlus sunnah hilangnya amalan menjadikan hilangnya iman, dan iman itu tidak hilang dengan hilangnya sebagian amal sebagaimana yang dinyatakan oleh khowarij dan mu’tazilah.

Adapun menurut murjiah, iman itu tidak hilang dengan hilangnya seluruh amal, karena kekafiran itu disebabkan karena mendustakan (syari’at), dan karena iman itu bermakna “At Tashdiq” (membenarkan) maka lawan katanya adalah “At Takdzib” (mendustakan), bukan yang lainnya.

Menurut pemahaman ahlus sunnah bahwa iman itu Tasdiq (membenarkan) dan amal (mengerjakan), dan kekafiran itu disebabkan karena Takdzib (mendustakan) dan yang lainnya, seperti berpaling dari ketaatan dan meninggalkan amal secara keseluruhan. Menurut sebagian dari ahlus sunnah berpendapat bahwa meninggalkan sholat menduduki posisi meninggalkan amal secara keseluruhan.

Ibnu Taimiyyah berkata : “Telah jelas bahwa dien itu harus terbentuk dari perkataan dan perbuatan, ini menentang pernyataan bahwasanya seorang itu beriman kepada Allah dan rosul-Nya hanya dengan hati dan lisannya dan tidak melaksanakan kewajiban yang nampak dan tidak pula sholat, zakat, shoum dan lain sebagainya daripada kewajiban-kewajiban yang ada”….. dan beliau berkata lagi : “Barangsiapa yang mengatakan iman kepada yang wajib itu sah tanpa melakukan sesuatu daripada yang diwajibkan, baik melakukan kewajiban-kewajiban itu secara semuanya atau sebagian saja maka ia telah melakukan kesalahan yang nyata, dan ini merupakan bid’ahnya murjiah yang para salaf dan para imam telah banyak berbicara dalam masalah ini, dan mereka telah banyak berkata dalam berbagai makalah yang tebal dan itu telah ma’ruf”. (Majmu’ fatawa : 7/621).

Telah kami kami bahas pada awal kitab ini bahwa kaum murjiah itu selalu bersama para penguasa. Inna Lillaahi wa Inna Ilaihi rooji’un…..

PRINSIP KE EMPAT PULUH SEMBILAN : Tidak ada jalan untuk mengembalikan Dien kepada Daulah

Tatkala mereka manolak tauhid mulkiyyah dimasukkan ke dalam macam-macam tauhid, dan ia sebut hal tersebut sebagai bid’ah dalam dien, maka mereka telah mengangkat syi’ar orang-orang sekuler :

“دَعْ لِقَيْصَرَ لِقَيْصَرَ وَمَا لِلَّهِ لِلَّهِ” (Tinggalkanlah urusan Kaisar untuk Kaisar dan urusan Allah untuk Allah)….. mereka mengungkapkan syi’ar ini sebagai kalimat hikmah yang baik pada zaman kita. Hal seperti itu disebabkan mereka meyakini bahwa memisahkan antara dien dan daulah telah menjadi keputusan hukum yang tidak ada bantahan baginya dan tidak ada yang mencela dan menolaknya.

Demi Allah, saya tidak tau kalaulah mereka telah menjadi orang sekuler !!!

PRINSIP KE LIMA PULUH : Mendiamkan penyelewengan yang dilakukan para penguasa

Termasuk prinsip rusak mereka yang mereka ikuti adalah, ia menampakkan prinsip ahlus sunnah wal jama’ah dalam wajibnya mendengar dan taat pada imam yang muslim, selagi tidak memerintah kepada ma’siyat, dan selalu bersabar atas kedzoliman penguasa selagi dia masih berperang di jalan Allah, selalu mengusir musuh-musuh Islam, dan wajib sholat di belakang mereka dan tidak keluar kepadanya (memberontak) kecuali jika didapati kekufuran yang nyata. Ini semua memang benar. Akan tetapi, pada sisi yang lain (kita) harus menasehati imam dan menyampaikan perkataan yang haq kepadanya dan harus amar ma’ruf dan nahi mungkar kepadanya, memerangi orang-orang kafir dan selalu menjaga kemaslahatan ummat itu diwajibkan atas imam, maka berhukum dengan yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam masalah yang besar dan kecil diwajibkan atasnya.

Sesungguhnya penguasa dan rakyat terikat satu ikatan yaitu ikatan bai’ah. Kewajiban rakyat adalah mendengar dan taat kepada imam. Adapun berbuat adil, menjaga kemaslahatan kaum muslimin, memerangi orang-orang kafir dan menjaga harta dan jiwa manusia itu kewajiban imam. Maka ketika imam kurang sempurna dalam melaksanakan kewajibannya, maka wajib dinasehati, dan ketika rakyat yang kurang sempurna dalam menunaikan kewajibannya maka wajib mendapat nasehat juga.

Seruan untuk mendengar dan taat saja, maka ini termasuk prinsip ahlus sunnah wal jama’ah yang merendahkan manhaj ahlus sunnah wal jama’ah, yang mana manhaj ahlus sunnah berdiri atas menasehati imam kaum muslimin dan rakyatnya, bukan hanya menasehati rakyat dan meninggalkan imam.

Satu kaum ini tidak bisa membedakan dalam masalah tersebut, yaitu antara orang yang tidak berhukum dengan syari’at dalam sebagian dari cabang syari’at dan antara orang yang menolak syari’at secara keseluruhan, yang mengumumkan sekuler sebagai dien dan manhaj, memerangi Islam dan para da’inya serta melemparkan mereka ke dalam penjara-penjara dan mencampakkan hijab kaum muslimat….. bahkan ini dalam pandangan mereka termasuk penguasa yang wajib mendapatkan hak di dengar dan di taati.

PRINISIP KE LIMA PULUH SATU : Mengingkari kemungkaran yang dilakukan imam termasuk tindakan khowarij

Termasuk prinsip rusak mereka adalah (mereka) menyandangkan kata khowarij kepada siapa saja yang mengingkari dengan lisan atas kemungkaran yang dilakukan oleh imam. Ini termasuk tindakan dosa besar, dikarenakan mengucapkan kalimat yang haq di hadapan penguasa yang lalim termasuk jihad. Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أَعْظَمُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Seagung-agungnya jihad adalah mengucapkan kalimat yang haq di depan penguasa yang lalim” (HR. Ahmad dalam al Musnad : 4/315).

(Sebenarnya seorang) itu tidak disebut khowarij selagi ia tidak meyakini orang lain telah kafir dikarenakan kema’siyatan yang ia lakukan, dan keluar kepada penguasa muslim dengan pedang (sabotase). Maka kalau ia tidak keluar (kepada penguasa untuk memberontak) maka ia tidak disebut pemberontak, dan ia tidak boleh diperangi, sebagaimana yang dilakukan oleh Imron bin Hatthon dan selainnya. Akan tetapi kalau ia keluar kepada imam dengan membawa pedang maka mereka disebut khowarij, dan ia wajib diperangi.

Adapun mengingkari imam dengan lisan saja, tanpa mengkafirkan kaum muslimin atau meyakini orang tadi kekal di dalam neraka disebabkan perbuatan dosa besar yang ia lakukan atau karena keluar kepada penguasa dengan pedang, maka orang yang seperti ini tidaklah disebut khowarij. (Akan tetapi) siapa saja yang menyebut orang yang menegakkan da’wah dan memerintahkan imam untuk berbuat adil diantara manusia itu disebut khowarij, maka orang yang menyebut tadi telah sesat menurut ijma’ kaum muslimin.

PRINSIP KE LIMA PULUH DUA : Tidak menegakkan amar ma’ruf kecuali dengan izin imam

Tatkala mereka membuang sebagian gambaran amar ma’ruf dan nahi mungkar, maka mereka menyangka bahwa tidak ada amar ma’ruf dan nahi mungkar kecuali setelah ada izin dari imam, bahkan mereka berkata “sesungguhnya tidak boleh menegakkan nahi mungkar sampai pun dengan hati kecuali dengan izin penguasa“!!!

Perkataan ini menyelisihi al Qur’an dan as sunnah serta ijma’, dikarenakan Allah Ta’ala telah berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَآأَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِن بَعْدِ مَابَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُوْلاَئِكَ يَلْعَنَهُمُ اللهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاَّعِنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yangmenyembunyikan sesuatu yang telah Kami turunkan dari keterangan-keterangan dan petunjuk setelah Kami terangkan kepada manusia di dalam al Kitab, mereka itulah yang akan dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh orang-orang yang melaknat”. (QS. Al Baqoroh : 159)

Dan firman Allah :

وَإِذْأَخَذَ اللهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلاَتَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَآءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلاً فَبِئْسَ مَايَشْتَرُونَ

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu):”Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima”. (QS. Ali Imron : 187).

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أَلْجَمَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ

“Siapa orangnya yang ditanya tentang ilmu lalu ia menyembunyikannya, maka Allah akan membelenggu ia pada hari kamat dengan belenggu dari api neraka”. (HR. Dawud : 3658).

Dan janji yang diambil oleh rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam atas shahabatnya adalah

وَأَنْ تَقُولَ بِالْحَقِّ حَيْثُ كُنَّا لاَ نَخَافُ فِي اللهِ لَوْمَةَ لاَئِمٍ

“Hendaknya engkau mengatakan dengan perkataan yang benar dimana kita tidak takut karena Allah pada celaan orang yang suka mencela”. (HR. Bukhori : 7200).

PRINSIP KE LIMA PULUH TIGA : Akhir prinsip mereka dan paling besarnya kerusakan

Adapun yang paling terakhir. Maka sesungguhnya ini merupakan prinsip merka yang paling rusak, (yaitu) mereka memperlajari prinsip yang rusak ini lebih penting dan lebih utama serta lebih agung daripada mempelajari daar-dasar semua ilmu kesenian, bahkan lebih utama daripada menyibukkan diri dengan menghafal Al Qur’an dan mempelajari as sunnah.

Penerjemah

(Urwah El Qudsy Ibnu Isman)


* Jama’ah yang mempunyai cita-cita menegakkan negara Islam (Syari’at Islam)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s