MAKNA THAGHUT

Posted: Januari 27, 2008 in AQIDAH

Iman seorang hamba tidak sah sampai dia mengkafiri thoghut. Allah Ta’ala berfirman:
“Maka barangsiapa yang kufur terhadap Thoghut dan beriman kepada Allah maka dia telah berpegang pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Mahah Mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 256). Ayat ini pula yang merupakan tafsiran syahadat laa ilaaha illallah, yang mengandun nafyu dan itsbat.

Antara Dua Ketentuan

An-nafyu artinya meniadakan peribadahan terhadap sesembahan selain Allah. Hal ini di realisasikan dengan meyakini batilnya beribadah kepada selain Allah, meninggalkannya, membencinya, mengkafirkan pelakunya dan memusuhi mereka. Inilah yang di maksud mengkufuri thoghut. Hal tersebut sebagiman yang di sebutkan oleh As Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab rahimahullah .
Sedangkan al-itsbat artinya menetapkan peribadahan hanya untuk Allah semata, dengan mengarahkan semua bentuk peribadahan hanya kepada Allah semata.
Demikianlah yang di maksud beriman kepada Allah yang di sebutkan dalam ayat di atas.

Hakekat Thaghut

Ibnu Katsir menukil dari Umar ibn Khatthab bahwa thaghut itu adalah syaithon. Dan Ibnu Katsir berkata:”Yang di maksud dengan thaghut di dalam firman Allah adalah syaithon, arti ini sangat kuat, karena mencakup segala kejelekan orang-orang jahiliyyah yang beribadah kepada berhala, berhukum kepadanya dan meminta pertolongan kepadanya.”(Tafsir Ibnu Katsir 1/311). Dan pada 1/512 Ibnu Katsir berkata: “Perkatan Umar itu juga di katakan oleh Ibnu Abbas, Abul ‘Aliyah, Mujahid, ‘Atho, “ikrimah, Sa’id ibn zubair, As-sya’bi, Al Hasan, Ad Dlohak, dan Assadi.
Ibnu Katsir menukil dari Imam Malik bahwa thaghut adalah segala sesuatu yamh di ibadahi selaihn Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam menafsirkan firman Allah,”Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang telah di turunkan kepadamu dan kepada apa yang di turunkan sebelum kamu Mereka hendak berhakim kepada thoghut, padahal mereka telah di perintah mengkufuri thaghut itu.”(QS.An-Nisaa’: 60) Ibnu Katsir berkata, “Ayat ini lebih umum dari pada itu semua, sesungguhnya ayat itu merupakan celaan bagi stiap orang yang menyeleweng dari Al-qur’an dan Assunnah, serta berhukum kepada selain keduanya. Dan inilah yang di maksud dengan thaghut di sini.”(Tafsir IBNU Katsir 1/619).
Ibnu Qayyim berkata, “Thaghut adalah segala sesuatu yang mana seorang hamba itu melampaui batas padanya, baik berupa sesuatu yang di ibadahi, di ikuti ataupun di ta’ati. Maka thaghut adalah segala sesuatu yang di jadikan pemutus perkara oleh suatu kaum, selain Allah dan rasulNya, atau mereka ibadahi selain Allah, atau mereka ikuti tanpa berdasarkan petunjuk dari Allah, atau mereka ta’ati pada perkara yang mereka tidak tahu bahwa itu ketaatan hanya kepada Allah. Inilah thaghut di dunia ini, apabila engkau renungkan keadaan manusia bersama thaghut ini, engkau akan melihat mereka kebanyakan berpaling dari berhukum kepada Allah dan rasulNya lalu berhukum kepada thaghut, dan berpaling dari menta’ati Allah dan mengikuti rasulNya lalu mentaati dan mengikuti tahghut.”(‘Ilmul Muwwaqi’in 1/50).

Jenis-jenis Thaghut

Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab dalam Risalah Makna Ath-Tahoghut mengatakan: “Thaghut itu pengertiannya umum maka setiap apa yang di ibadahi selain Allah dan dia rela dengan peribadahan itu, baik berupa sesuatu yang di sembah, di ikuti, atau di ta’ati selain keta’atan kepada Allah dan rasulNya adalah thaghut. Thaghut itu banyak dan kepalanya ada lima, mereka adalah:
1/. Syaithon yang menyeru untuk beribadah kepada selain Allah, dalilnya adalah : “Dan barangsiapa di antara mereka mengatakan:”Sesungguhnya aku adalah illah selain daripada Allah”, maka orang itu kami beri balasan dengan Jahannam, demikian Kami memberi balasan kepada orang-orang dzalim.”(QS. Al Anbiya’: 29).
Adapun Syaikh Muhammad ibn Hamid Al FAqy mengatakan,: “Yang dapat di simpulkan dari perkataan ulama salaf, bahwasanya thaghut itu adalah segala sesuatu yang menyelewengkan dan menghalangi seorang hamba untuk beribadah kepada Allah, dan memurnikan agam dan keta’atan hanya kepada Allah dan rasulNya saja. Sama saja apakah thaghut itu berupa jn, manusia, pepohonan, bebatuan atau yang lainnya. Dan tidak di ragukan lagi termasuk pengertian ini, memutuskan hukum dengan undang-undang di luar islam dan syari’atnya, dan undang-undang lainnya yang di buat manusia untuk menghukumi permasalahan darah, seks dan harta serta menyingkirkan syari’at Allah seperti melaksanakan hukum hudud, pengharaman riba, zina, khamr, dan lainnya yang di halalkan dan di jaga oleh undang-undang tesebut. Dan undang-undang itu sendiri adalah thaghut. Dan hal-hal yang serupa dengan hal itu seperti buku-buku yang yang di buat berdasarkan akal manusia untuk memalingkan dari kebenaran yang di bawa oleh Rasulullah, baik dengan sengaja maupun tidak sengaja, semuanya itu adalah thaghut.” (Catatan kaki hal. 287 dalam kitab Fathul Majid, karangan Abdur Rahman ibn Hasan Aalu Syaikh).

Dalam Ibadah dan Hukum

Sedangkan yang terperinci di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah menyebutkan dua macam thaghut, yaitu thaghut dalam ibadah dan thaghut dalam hukum.
Pertama: Thaghut Dalam Ibadah.
Terdapat di dalam firman Allah, “Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya.”(QA> AzZumar:17). Yaitu segala sesuatu yang di ibadahi selain Allah yang berupa syaithon atau manusia baik yang hidup atau mati, hewan atau benda mati, seperti pohon, batu, ataupun bintang, sama saja apakah dengan cara mempersembahkan korban kepadanya, atau berdo’a dan shalat kepadanya. Atau mengikuti dan menta’atinya dalam masalah yang menyelisihi syari’at Allah. Dan kalimat “segala yang di ibadahi selain Allah” di batasi dengan kalimat “dia rela dengan di ibadahi tersebut” supaya tidak termasuk kedalamnya seperti ‘Isa ‘alaihis salam atau para nabi yang lainnya, malaikat dan orang-orang sholeh karena mereka tidak rela dengan perbuatan tersebut, sehingga mereka bukan di sebut thoghut.
Kedua: Thaghut Dalam Hukum.
Hal ini terdapat dalam firman Allah “Mereka hendak berhukum kepada thaghut.”(QS: AnNisaa’: 60) Ketika di tanya tentang ayat ini, dalam fatwa al -lajnah ad-da’imah di saudi, di jawab: “Yang di maksud dengan thaghut di dalam ayat tersebut adalah segala sesuatu yang memalingkan manusia dari Al-Qur’an dan As-Sunnah kepada berhukum kepada dirinya baik itu berupa sistem atau undang-undang positif atau adat istiadat yang di wariskan dari nenek moyang mereka pemimpin-pemimpin suku untuk memutuskan perkara antara mereka dengan hal tersebut atau dengan pendapat pemimpin jama’ah (kelompok) atau dukun. Dari situ jelaslah bahwa sistem yang di buat untuk berhukum kepadanya yang bertentangan dengan syari’at Allah masuk ke dalam pengertian thaghut.” ( Fatwa no:8008).Wallahu ‘alam bish shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s