AL-JAMA’AH

Posted: Januari 29, 2008 in 'Itishom

Al-Jama’ah menurut kamus bahasa Arab “Lisanul Arab” karangan Imam Ibnu Manzur, memiliki tiga arti yang berbeda, yaitu : Al-Ijtima (Kesatuan), Al-Jami (Berkumpul dan bekerja bersama-sama) dan Al-Ijma’ (mufakat dan persetujuan).
Al-Jama’ah Dalam Istilah Hukum

Kata Jama’ah memiliki penggunaan yang berbeda-beda dalam hukum Islam. Sebagian penggunaannya adalah untuk menunjukkan makna, Shahabat, Ahli ilmu pengetahuan, Ahli surga dan Umat Islam di bawah kepemimpinan khalifah.
Al-Jama’ah adalah Shahabat

Fuqaha Islam telah menggunakan kata Jama’ah yang berarti Shahabat. Shahabat adalah mereka yang dipersatukan oleh satu kepemimpinan yaitu khalifah, dipersatukan dalam satu hukum, satu pemahaman, satu aqidah, dalam jihad dan satu agama. Mereka adalah orang yang menjadi perantara sampainya Al-Qur`an dan Al-Hadits kepada kita. Mereka adalah orang-orang yang disenangi oleh Rasulullah SAW dan Beliau berkata bahwa para Shahabat tidak pernah bersepakat dalam kesesatan.

Imam Ash-Shaatibi berkata dalam Kitabul I’tisaam,
“Al-Jama’ah secara khusus penunjukannya adalah para Shahabat Rasulullah SAW, mereka adalah golongan yang menegakkan agama dan yang tidak pernah bersatu dalam kesesatan, dan tidak seorangpun kecuali mereka yang tidak akan pernah bersatu dalam dalam kesesatan.”

Abdullah Ibnu Mubarak berkata,
“Al-Jama’ah adalah Abu Bakar dan Umar (ra), dan mereka adalah golongan yang selamat. Dan dia mengutip sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda : “Ummatku tidak akan bersatu dalam kesesatan…”
Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk mengikuti para Shahabat. Seperti diriwayatkan Abu Daud, bahwa Rasulullah SAW bersabda :
“Ikuti Al-Jama’ah.”

Ibnu Umar meriwayatkan,
“Allah tidak akan pernah mempersatukan umat ini dalam kesesatan. Allah akan melindungi mereka (Jama’ah) dan siapa saja yang menentang maka ia akan neraka.”

Al-Jama’ah adalah Golongan yang Selamat

Al-Jama’ah digunakan dalam hadits untuk menunjuk Firqah an-Najihah (golongan yang selamat dari api neraka)
Auf bin Malik meriwayatkan,
Rasulullah SAW berkata, kaum Yahudi akan terbagi dalam 71 golongan, satu golongan akan masuk surga dan 70 di neraka, kaum Nasrani akan terbagi dalam 72 golongan, satu masuk surga, dan di neraka. Demi Allah SWT yang jiwaku ada di tangan-Nya, umatku akan terbagi menjadi 73 golongan. 72 golongan akan masuk neraka. Para Shahabat bertanya : “Siapa golongan yang selamat itu ?” Rasulullah Saw menjawab : ”al-Jamaa’ah” (Kitabul Fitan, Sunan Ibnu Majah, Hadits no 3982)

Anas bin Malik meriwayatkan,
“Rasulullah SAW berkata : “orang-orang Bani Israil akan terbagi menjadi 71 golongan dan umatku akan terbagi menjadi 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka kecuali satu, yaitu Al-Jama’ah.” (Kitabul Fitan, Sunan Ibnu Majah, Hadits no. 3983)

Al-Jama’ah adalah Ahli Tsaqofah (Ilmu Pengetahuan)

Rasulullah SAW bersabda :
“Al-Jama’ah adalah Ahli Ilmu. Allah SWT menganugerahkan kepada mereka “hujjah” atas orang-orang yang membuat orang-orang tersebut mengikuti mereka.”

Imam Bukhari berkata,
“Al-Jama’ah adalah Ahli Ilmu, mereka megikuti Rasulullah SAW dan para Shahabat serta tabi’in.”
Penting disini untuk menekankan bahwa para ulama menduduki posisi yang berbahaya dalam pandangan Islam karena ada beberapa bukti dan beberapa hadits memberikan indikasi tentang kedudukan mereka di neraka dikarenakan kesalahan-kesalahan yang mereka sengaja. Akan tetapi, para ulama yang tergolong Al-Jama’ah disebutkan oleh Imam Bukhari sebagai orang yang mengikuti pemahaman Rasulullah SAW, para Shahabatnya dan para tabi’in.

Al-Jama’ah adalah Ahli Surga

Umar bin Khattab r.a., berkata :
“Hai orang-orang, aku berdiri hari ini sama seperti Rasulullah SAW berdiri dulu dan Beliau berkata, “Aku menyuruh kalian untuk taat kepada Allah SWT dan mengikuti Shahabat-Shahabatku dan mengikuti pengikut setelah mereka (Tabi’in) dan yang mengikuti mereka setelah itu (Tabi’it Tabi’in). Setelah itu orang-orang akan menyebarkan kebohongan, dan orang-orang akan menjadi saksi meskipun tidak seorangpun yang meminta kesaksiannya. Jangan seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita, karena syaitan akan berada diantara mereka, syaitan senantiasa bersama orang-orang yang jauh dari Al-Qur`an dan Al-Hadits. Sehingga siapa saja yang ingin berada di surga, maka bergabunglah dengan jama’ah dan siapa yang senang melakukan kebajikan dan sedih ketika melakukan keburukan ia adalah seorang mu’min.
Umar bin Khattab r.a.,

Rasulullah SAW bersabda :
“Berhati-hatilah dan jagalah para Shahabatku baik-baik ! Ikutilah para Shahabatku dan para pengikutnya dan para pengikut mereka setelah itu. Setelah itu akan tersebar kebohongan sampai datang seorang pria yang bersaksi meskipun tak seorangpun memintanya bersaksi. Barangsiapa yang ingin melihat surga, maka bergabunglah dengan jama’ah, karena syaitan bersama seseorang yang menyendiri dan jauh dari Al-Qur`an dan Al-Hadits.”

Al-Jama’ah adalah Umat yang Berada Dibawah Kepemimpinan Seorang Khalifah

Al-Jama’ah digunakan dalam banyak hadits untuk menyebut kaum Muslimin yang berada di bawah kepemimpinan dan kesatuan seorang khalifah.

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa Rasulullah SAW bersabda :
“Barangsiapa melihat keburukan dari amirnya (pemimpinnya) maka hendaknya bersabar (jangan memberontak) dan barangsiapa yang menjauhi Al-Jama’ah (Jama’atul Muslimin di bawah kepemimpinan seorang khalifah) dan kemudian mati, maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah.”

Rosulullah SAW bersabda :
“Barangsiapa meletakkan ketaatannya kepada khalifah dan memisahkan diri dari jama’ah, dan kemudian dia mati, maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah.” (Shahih Muslim. Jilid 12, hal. 441 dan Sunan Nasa’I, Hadits no. 4125)

Hudzaifah r.a. meriwayatkan bahwa orang-orang ketika itu bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kebaikan sedangkan aku (Hudzaifah) bertanya tentang keburukan karena takut keburukan itu akan kutemui. Maka aku bertanya,
“Wahai Rasulullah sesungguhnya kami dulu dalam kejahiliyyahan dan kejelekan, kemudian Allah SWT menunjukkan kami dengan kebaikan ini. Apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan ? Jawab Rasulullah, “Ya.” Aku kembali bertanya, “Dan apakah setelah kejelekan itu ada lagi kebaikan ?” Rasulullah menjawab, “Ya, tetapi terdapat kabut di dalamnya.” Aku bertanya, “Apakah kabut itu?” Rasulullah menjawab, “Kaum yang memberi petunjuk dengan selain petunjukku, engkau mengetahui (kebaikan mereka) dan mengingkari (kejelekan mereka).” Aku bertanya lagi, “Apakah setelah kebaikan itu ada lagi kejelekan?” Rasulullah menjawab, “Ya, yaitu para penyeru yang mengajak ke neraka jahannam. Barangsiapa yang memenuhi seruan mereka, mereka akan diceburkan ke neraka jahannam.” Aku berkata, “tunjukkan sifat mereka pada kami.” Rasulullah bersabda, “Mereka berkulit sama seperti kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita.” Aku bertanya lagi, “Apa yang engkau perintahkan pada kami jika itu kami temui?” Rasulullah menjawab, “Jauhilah semua kelompok tersebut sekalipun engkau harus menggigit akar pohon sehingga ajal menjemputmu sementara engkau tetap dalam keadaan seperti itu.” (Shahih Muslim, Hadits no.1847 dan Shahih Bukhari, Hadits no.6557)

Lebih jauh lagi Rasulullah SAW bersabda :
“Akan ada sesudahku suatu bencana sesudah bencana. Jika engkau melihat seseorang meninggalkan suatu jama’ah atau ingin memisahkan dirimu dari jama’ah, bunuhlah dia dimanapun berada. Allah SWT akan melindungi jama’ah dan syaitan akan berada jauh dan lari dari jama’ah.” (Sunan an-Nasa’i Hadits no. 3954).
Al-Jama’ah adalah Kesepakatan

Siapapun dapat menemukan kata Al-Jama’ah dalam hadits-hadits tentang kesepakatan dan persetujuan di kalangan orang-orang yang beriman. Diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad bahwa Nu’man Ibnu Bashir meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW berkata :
“Barangsiapa yang tidak mensyukuri yang kecil, ia tidak mensyukuri yang besar (mendapat berkah) dan seseorang yang tidak berterima kasih kepada manusia, ia tidak akan pernah bersyukur kepada Allah SWT. Maka menyadari berkah Allah SWT adalah syukur, dan tidakmenyadari berkah Allah SWT adalah kufur. Kesepakatan adalah rahmat dan perselisihan adalah adzab.”

Diriwayatkan bahwa Abdullah Ibnu Umar r.a. berkata,
“Pada suatu hari ayahku berdiri dan memberi khutbah sama seperti suatu ketika Rasulullah SAW berdiri dan memberi khutbah. Dalam khutbahnya Rosulullah SAW berkata : “Aku memerintahkanmu untuk mengikuti para Shahabatku dan para pengikutnya serta para pengikut mereka. Setelah itu datang suatu masa dimana kebohongan akan tersebar dan seseorang akan memberi sumpah meski tidak seorangpun memintanya bersumpah, dan seseorang akan memberikan kesaksian meski tidak seorangpun meminta kesaksiannya. Janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita karena syaitan akan berada diantaranya. Syaitan senantiasa akan bersama orang yang jauh dari Al-Qur`an dan Al-Hadits. Barangsiapa yang ingin masuk surga, bergabunglah dengan jama’ah.”

Al-Jama’ah adalah Ahlul Halli wal ‘Aqdi

Seperti diriwayatkan dalam banyak hadits bahwa Al-Jama’ah itu juga dikenal sebagai orang yang penting dan berpengaruh. Diriwayatkan dalam Fathul Bari oleh Ibnu Batta bahwa Al-Jama’ah itu adalah Ahlul Halli wal ‘Aqdi.

Al-Jama’ah adalah Kelompok

Al-Jama’ah dikalangan ahli hukum (Islam) juga digunakan untuk menunjuk sebuah kelompok yang berkumpul bersama untuk menunaikan sebuah kewajiban. Sebagai contoh kelompok yang menyerukan kebajikan, mencegah kemungkaran, menegakkan kembali khilafah, atau berjihad di jalan Allah SWT.

Allah SWT berfirman :
“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh yang ma’ruf mencegah yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran (3) : 104)

Diriwayatkan oleh Abu Daud (Hadits no. 2197) bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Jika kalian pergi berjihad, pergilah bersama dan pergilah sebagai sebuah jama’ah.”
Jama’ah adalah Shalat di Masjid

Al-Jama’ah juga digunakan dalam hadits-hadits yang menunjukkan shalat dilakukan secara berjama’ah di masjid.

Utsman bin ‘Affan meriwayatkan (tercantum dalam Shahih Muslim, Hadits no. 1049) bahwa Rasulullah SAW bersabda :
“Barangsiapa shalat Isya’ berjama’ah, maka shalatnya sama dengan shalat malam (qiyamul lail) setengah malam dan barangsiapa shalat subuh berjama’ah, maka shalatnya sama dengan shalat malam (qiyamul lail) sepanjang malam.”

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, Hadits no. 609 bahwa Abdullah bin Umar meriwayakan bahwa Rasulullah SAW bersabda :
“Shalat berjama’ah itu pahalanya 27 kali lipat daripada shalat sendirian.”
Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, Hadits no. 1045 bahwa Ibnu Mas’ud berkata :
“Kami menganggap seseorang yang tidak melaksanakan shalat berjama’ah di Masjid itu munafiq, bahkan bagi para pria yang sakit, mereka harus datang ke masjid dengan dipapah dua orang pria, dan Allah mengajarkan petunjuk kepada kita, dan salah satu petunjuk adalah shalat di masjid, dimana kalian dapat mendengar adzan, barangsiapa yang shalat di belakang Imam, dia berada dalam jama’ah.”

Ada empat tipe orang menurut definisi hukum dari Al-Jama’ah :
Ahlul Bid’ah (orang yang menambah-nambah hukum Islam)
Al-Firaq Al-Haalika (golongan yang menyimpang)
Ahlul Baghi (orang yang memberontak kepada Daulah Islam)
Faasiq Fajir (orang yang tidak melaksanakan ajaran Islam).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s