Kewajiban Mengikuti Manhaj Salafus Sholeh

Posted: Januari 29, 2008 in 'Itishom

Pengantar

Segala puji bagi Allah SWT, kita memuji-Nya,memohon bantuan-Nya dan ampunan-Nya. Kita berlindung kepada Allah SWT dari kejahatan-kejahatan dari diri kita dan perbuatan-perbuatan kita. Dialah Allah yang Maha Memberi Petunjuk kepada siapapun yang dikehendaki-Nya yang tidak ada seorang pun yang bisa menyesatkan dan Dialah Allah yang Maha Pemberi Petunjuk yang mana tidak akan ada seorangpun yang dapat memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa Tiada Tuhan yang patut diibadahi, patut disembah atau dipatuhi perintah-Nya kecuali Allah SWT. Dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan-Nya dan Nabi terakhir yang tidak ada Nabi lagi sesudahnya.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. 3:120).

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah SWT dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa mentaati Allah SWT dan Rosul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapati kemenangan yang besar.”(QS.33:70-71)

Tulisan ini akan memaparkan secara detail berdasarkan dalil yang diambil dari Al-Kitab (Al-Qur`an) dan As-Sunnah. Apa yang dimaksud standar Islam? Dan kenapa menjadi wajib bagi kaum Muslimin untuk mengikuti (ittiba’) standar ini?. Standar Islam dapat dimaknai mengikuti Al-Qur`an dan As-Sunnah dengan jalan mengembalikan pemahaman kepada pemahaman Salafus Sholeh, yang mana Allah SWT telah meridhoi mereka semua. Kewajiban mengambil jalannya Salafus Sholeh bukan merupakan hal yang baru. Permasalahan ini merupakan standar yang sama dengan standar yang dianut oleh empat imam besar umat ini. Kewajiban ini tertuju kepada siapa saja yang mengharapkan berada pada golongan yang selamat (Al-Firqotun Naajiah), oleh karena itu ada kesesuaian dengan para sahabat dan tabi’in, tabiut-tabi’in yang berdiri diatas jalan sahabat-sahabat. Merekalah yang disebut sebagai Salafus Sholeh yang harus kita jadikan suri tauladan. Pada poin ini terdapat dua golongan, yaitu orang-orang yang menyimpang dan manhaj mereka dan orang-orang yang beriman (muwahid).

Perubahan Konsep Islam (Mafahim Maghlufah)

1. Bahasa yang terbaik adalah Kitab dari Allah SWT (Al-Qur`an) dan panutan yang terbaik adalah Muhammad SAW.

2. Masalah yang terburuk adalah masalah atau hal yang baru (bid’ah) dan setiap sesuatu yang baru (yang tidak pernah dicontohkan Rasululloh Muhammad SAW) adalah sesat (dholalah) dan setiap kesesatan imbalannya adalah neraka. Saat ini kita menemukan banyak sekali dijumpai bid’ah. Tidak semua dari konsep pemikiran syariah dan ide-ide Islam sebagai ide yang benar dalam terminologi Islam, mereka mengalami penyimpangan oleh karena adanya perang pemikiran (Al-ghazwul fikri) yang dilakukan oleh orang-orang kafir dan pembelot-pembelot diantara kaum Muslimin sendiri.

3. Salah satu kesalahan konsep dalam Islam adalah ketidakpahaman seorang Muslim terhadap agama. Banyak yang beranggapan ketika mereka berfikir tentang agama (ketika menunjuk pada agama Islam), dipahami hanya terbatas pada urusan ritual belaka atau aktivitas ibadah saja, dengan demikian ajaran Islam dikenal terbatas pada masalah ritual belaka yang kemudian mereka menyamakannya dengan agama-agama lain seperti agama Kristen dan agama Yahudi. Mereka menganggap, adanya kebolehan bagi seseorang untuk mengganti ibadah ritual Islamnya dengan ibadah ritual non Islam, padahal hal ini dapat menjerumuskan pada ketidakadaan iman (ingkar), yakni ia akan keluar dari Islam. Ide-ide tersebut sesuai dengan apa yang ada dalam paham sekularisme dan demokrasi. Jika dua ide ini diambil oleh seseorang maka, meskipun tidak sampai menyebabkan peniadaan iman (kufur) pada diri seseorang akan tetapi keduanya, yaitu sekularisme dan demokrasi adalah suatu perbuatan dosa seperti beberapa perbuatan dosa lain dalam agama. Ide ini (sekulerisme dan demokrasi) merupakan ide yang sesat dan bertentangan dengan pemahaman Ahlus Sunnah wal-Jama’ah

4. Kata “Agama”(Dien) memilki banyak arti dalam syariat. Agama dapat diartikan dengan jalan hidup, yang berisi aqidah, hukum-hukum (qanun) seperti peraturan-peraturan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur`an :

”Dan berkata Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya): ”Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya. Karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan dimuka bumi.”
(QS. 40:26).

Ayat ini sebagai contoh bagaimana kata agama (dien) dapat diartikan dengan jalan hidup yang komplit dan sempurna. Dalam peristiwa lain, Allah SWT menginformasikan kepada kita tentang nabi Yusuf a.s, ketika Allah SWT berfirman :

“Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja.”(QS.12:76).

Ayat ini membuktikan bahwa Yusuf a.s. tidak pernah memutuskan dengan hukum-hukum kufur dari al-Malik (raja) pada saat itu. Oleh karena itu kata “Agama (dien)” disini menunjukkan atas hukum (Qanun)

5. Secara menyeluruh kata ”Agama” (Dien) memiliki arti keyakinan (I’tiqaad) yang dimanifestasikan dalam kehidupan yang dilandasi atas hukum-hukum syariat.

6. Sekarang dapat diketahui definisi yang benar tentang agama. Akan tetapi terdapat kemungkinan terkontaminasi oleh pemikiran-pemikiran sekularisme atau kapitalisme, atau komunisme atau marxisme atau baa’thisme atau nasionalisme, atau kristiani atau Yahudisme atau Hinduisme yang memindahkan definisi agama kedalam partikel-partikel atau potongan agama (bersifat parsial) dan hal ini merupakan aktivitas proses menuju kemurtadan (keluar dari agama Islam).

7. Konsep lainnya adalah kesalahan pemahaman umat (secara umum) mengenai konsep dari ibadah. Tatkala umat ini ditanya tentang “Ibadahnya kepada Allah SWT”, mereka (seperti kata agama) memahami kata ibadah hanya terbatas pada beberapa makna ibadah ritual saja. Aktivitas sufi dan sufisme secara menyeluruh memiliki pengertian seperti ini juga mereka membatasi ibadah hanya penunjukkan kepada aktivitas ibadah ritual belaka dan aktivitas ibadah sendiri (hubungannya dengan Allah SWT). Setelah sufi dan sufisme, terdapat orang-orang dari dari kalangan murjiah (orang-orang yang membuat pemisahan antara aqidah dengan perbuatan dalam kehidupan manusia), mereka meyakini iman hanya iman dalam hati. Semua aktivitas ibadah hanya dinilai dalam hati, aktivitas perbuatan tidak ada hubungannya dengan pernyataan iman. Kebanyakan orang membatasi konsep ibadah bermakna dalam hati. Padahal definisi iman yang benar adalah sebagaimana telah disetujui oleh Ijma’ Salafi dari umat ini dan sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Syekhul Islam, Ibnu Taimiyah yaitu :

iman adalah sesuatu yang diucapkan oleh lisan, diamalkan oleh perbuatan dan diyakini kuat dalam hati.

Definisi iman secara menyeluruh akan membentuk keimanan dari dalam diri seseorang yang akan memancarkan penampakan dalam aktivitasnya (At-Talazum, yaitu adanya penyatuan antara perkataan dengan perbuatan). Demikian juga kebenaran makna ibadah adalah secara menyeluruh, meliputi semua aspek kehidupan, baik dalam aktivitas kita maupun dalam transaksi atau jual beli yang kita lakukan dalam kehidupan bermasyarakat juga memancarkan aktivitas ibadah kita tatkala memenuhi perintah-Nya. Allah SWT berfirman:
” Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.(QS.51:56)

8. Konsep lain yang penting yang mana umat ini salah memaknainya adalah tentang salafiah (salafy). Salafiah sebenarnya memiliki pemahaman dengan arti mengikuti kejelasan atau kemurnian pemahaman sahabat-sahabat Rosul yaitu Nahjus Salaf.. Pengertian tersebut sangat berbeda dengan pemahaman mengikuti agama menurut generasi-generasi sesudah salaf yaitu, Al-Khalaf. As-Salafiah oleh orang-orang awam dipahami masuk ke dalam sebuah partai (menjadi Hizbiah) yang dipimpin oleh seorang Syekh (sebagian besar keturunan orang-orang Saudi), atau dipimpin oleh seorang imam atau seseorang yang menjadi anggota dari komite permanen dari sebuah sekolah utama di Saudi Arabia. Fakta yang terjadi sekarang ini tidaklah cukup untuk dikatakan bahwa dengan kondisi yang ada seperti ini umat telah mengikuti jalan salafi sebab kejelasan konsep salafi telah disimpangkan.

9. Salah satu konsep yang salah dan menyimpang pemahamannya untuk saat ini adalah konsep dan pemahaman mengenai Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Kita temukan pada saat ini, banyak golongan atau firqoh, jamaah-jamaah, dan orang-orang yang mengklaim atau mengaku mengikuti Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan mengatributkan diri mereka kedalam Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Faktanya, mereka sebenarnya jauh dari apa yang mereka akui (yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah). Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah golongan orang-orang yang selalu mensuritauladani Rasululloh Muhammad SAW dalam hidup dan mensuritauladani para sahabat Rasululloh Muhammad SAW. Mengikuti Ahlus Sunnah wal Jama’ah berarti mengikuti mereka (Rasulullah dan para sahabat) yang ada dalam jalan kebenaran (baik dalam masalah aqidah atau keyakinan, perkataan dan perbuatan) sampai hari pengadilan nanti (ihsan ila yaumil qiyamah), seorang Muslim yang mengambil manhaj para sahabat dari waktu masa tabiin sampai hari pengadilan nanti maka mereka termasuk golongan yang selamat. Rasululloh Muhammad SAW bersabda dalam suatu hadist yang diriwayatkan oleh Abdullah Ibn Amr (ra) :

”Orang-orang Israel terpecah kedalam 72 golongan dan umatku akan terpecah ke dalam 73 golongan, semua dari mereka akan masuk neraka kecuali satu.” Mereka bertanya, ”Apakah golongan itu ya Rasulullah? “Rasululloh Muhammad SAW menjawab:
”golongan itu adalah saya dan sahabat-sahabatku dan mereka yang tegak berdiri di jalan itu ( diatas manhaj yang sama).”(HR. At Tirmidzi (2641)).

Hadist ini memuat kejelasan dari hadist-hadist lainnya tentang pentingnya kembali ke jalan Rasululloh Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan menjadi golongan yang selamat dari api neraka.. Adapun golongan yang berbeda dengan mereka, mereka adalah golongan yang diancam dengan api neraka karena mereka adalah golongan yang menyimpang dari kebenaran. Golongan ini adalah golongan kufur dan murtad kemudian dia adalah termasuk orang-orang yang akan masuk ke neraka dan akan kekal didalamnya. Dan jika golongannya tidak menyebabkannya keluar dari Imannya (murtad) maka dia akan diancam dengan beberapa hukuman kecuali satu golongan dari 73 golongan dan dia adalah golongan yang selamat. Dan golongan yang berdiri diatas jalan Rasululloh Muhammad SAW dan para sahabatnya yang melandaskan metodologinya pada kitabullah dan sunnah Rasul adalah golongan yang selamat.

Kewajiban Mengambil Jalannya Salafi dalam Semua Urusan Agama

Kewajiban mengambil salafi sebagai contoh dalam semua urusan agama (aqidah dan syariat) sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT, ketika Allah SWT berfirman:

”Dan barang siapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam neraka Jahannam dan Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali”(QS.4:115).
Kata “Sabilil Mu’minin” atau jalan orang-orang Mukmin; Allah memerintahkan manusia untuk melawan orang-orang yang tidak mengimani tentang hari akhir dan orang yang melawan jalannya sahabat.

Beberapa ulama salaf berkata, siapa saja yang menentang jalannya orang-orang yang beriman (sahabat) maka dia juga berarti bertentangan dengan jalannya Rosululloh Muhammad SAW sebagaimana Allah SWT telah menjadikan mereka Talaazum (bersatu) satu sama lain. Dasar ini dapat dipahami berdasarkan suatu kaidah:

” Para sahabat tanpa Rasulullah tidak berarti apa-apa dan Rasulullah tidak akan berhasil misinya tanpa shahabat.”

Allah SWT berfirman:

”Katakanlah: Inilah jalan (agama )ku, aku dan orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata .”(QS.12:108).

Kata “alaBashirah” atau dengan hujjah yang nyata adalah suatu pemahaman yang dilandaskan pengetahuan dan pemahaman fiqh yang benar. Dan satu dari kutipan diatas ketika Allah berfirman”

… Dan orang-orang mengikutiku….”(QS. 12:108).

dalam penggalan ayat diatas menunjukkan para sahabat Rasulullah, suatu golongan yang Allah telah meridhoi mereka semua.

Allah SWT berfirman:

“Maka jika mereka beriman pada apa yang telah kamu beriman kepada-Nya (Rasululloh Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya r.a.), sungguh mereka telah mendapat petunjuk.” (QS. 2:137).

Mafhum mukhalafah (makna sebaliknya) dari ayat ini dapat dipahami bahwa jika kita tidak beriman seperti para sahabat beriman (aqidah dan syariat) maka kita tidak akan mendapat petunjuk dan menuju pada kesesatan yang nyata.

Allah SWT berfirman:

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah SWT ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. 9:100)

Allah SWT meridhoi sahabat-sahabat Rasululloh bukan disebabkan karena tinggi atau rendah, kaya atau miskin, hitam atau putih akan tetapi disebabkan karena mereka mengikuti jalan yang benar dan manhaj (metode) yang benar.

Dapat dikatakan bahwa Allah SWT tidak akan memuji seseorang dari banyak orang tanpa alasan. Begitupun Allah SWT tidak akan menipu kita dengan kebaikannya ketika Allah SWT berfirman (tentang sahabat) ;

“Alloh ridho kepada mereka …..” (QS. 9:100)

ini adalah kenyataan bahwa Allah SWT memang benar-benar meridhoi mereka, disebabkan oleh karena mereka adalah orang-orang yang mendapat hidayah dan bertakwa.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah SWT telah ridho terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat waktunya.” (QS. 48:18).

Bai’at yang telah disebutkan dalam ayat diatas adalah Bai’atur-Ridwan yaitu bai’at untuk berperang sampai mati yang diikrarkan sebelum perjanjian Hudaibiyah ketika baru terjadi konspirasi pembunuhan terhadap Utsman r.a. yang dilakukan orang-orang Quraisy yang telah didengar oleh Rasululloh SAW. Ulama-ulama seperti Imam At-Tabrani dan Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa total jumlah mereka sekitar 1400 sahabat dan sahabiyah yang berada dibawah pohon. Allah SWT menjelaskan kepada kita dalam ayat di atas bahwa Allah SWT meridhoi semua sahabat-sahabat Rasululloh yang mengikrarkan bai’at di bawah pohon, Allah SWT mengetahui apa yang ada dalam hati mereka dan Allah SWT juga meridhoi orang-orang yang bersama mereka semua. Rasululloh Muhammad SAW bersabda:

“Tidak akan masuk neraka seseorang yang telah berbaiat di bawah pohon.”

Demikian juga Rasululloh bersabda:

“Saya mohon kepada Allah bahwa tidak satupun masuk neraka orang-orang yang ikut dalam perang Badar dan yang telah melakukan bai’at Hudaibiyah.”

Hadits-hadits di atas menunjukkan kepada kita bahwa Allah SWT tidak hanya meridhoi semua sahabat akan tetapi juga menjanjikan mereka akan surga-Nya dan tidak hanya sepuluh orang yang dikenal sebagai Asharah Mubasharah diberikan berita gembira yaitu surga, kita ketahui Ahlus Sunnah wal Jama’ah dijamin Allah SWT akan masuk surga begitupun setiap orang yang mengikuti jalannya Rasululloh juga dijamin sama seperti mereka. Oleh karena itu Rasululloh tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu. Sungguh tidaklah demikian akan tetapi apa yang diucapkannya adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.

Pandangan Syi’ah terhadap Salafi (sahabat-sahabat Rasulullah)

Jika kita memahami poin-poin sebelumnya, maka kita akan memahami bahwa kedudukan sahabat memang pantas didapatkan. Apa yang terjadi kemudian, suatu golongan yang mengklaim dirinya sebagai syi’ah Raafidah. Golongan kufur atau sesat (tapi mengklaim dirinya sebagai golongan Muslim), mereka mengatakan bahwa: ”setelah kematian Rasulullah SAW, semua sahabat Rasul sibuk menyebarkan dan memperjuangkan Islam kecuali 3 orang, mereka itu adalah Miqdaad, Abu Dzar dan Salman (tercantum dalam Furu’ul-Kafi,Vol.2, hlmn.115). Hal senada, disampaikan oleh salah seorang ulama Syi’ah yang bernama Al-Majlisi, dia berkata bahwa: ”Ketika Imam Mahdi muncul, dia akan memerintahkan untuk menghancurkan tembok makam Rasulullah SAW. Dia akan memerintahkan tubuh Abu Bakar dan Umar untuk bangkit dari kubur mereka, kain kafan mereka bergerak, dan tubuh mereka menggantung diatas pohon yang kering.”
(Dikutib dalam Hayat al-Qutub, vol.1,hlm.216).

Itulah beberapa pandangan Syi’ah terhadap para sahabat yang sempat terdengar, pastilah ada beberapa pertanyaan yang datang dalam benak kita. Apakah Allah SWT menipu umat Islam bahwa Dia mengetahui apa yang ada dalam hati para sahabat dan Allah SWT meridhoi mereka semua? Allah SWT meridhoi mereka pada waktu-waktu tertentu untuk beberapa kebaikan, apa makna tersembunyi dari teks atau nash tersebut? Jawaban dari kedua pertanyaan tersebut adalah secara tegas tidak! Golongan kafir Syi’ah berbohong. Mereka memperoleh semua apa yang mereka katakan tentang sahabat–sahabat Rasulullah SAW bertujuan untuk menghancurkan kemurnian Islam. Allah SWT telah menjelaskan dalam banyak ayat tentang para sahabat dan perilaku mereka patut untuk dicontoh. Terlebih lagi banyak ayat-ayat dalam Al-Qur`an (beberapa ayat berisi pujian) difirmankan oleh Allah SWT, bahwa mereka (para sahabat ) mendapat kesenangan yang abadi. Dalam Al-Qur`an banyak ayat yang menjadi saksi atas keyakinan atau iman mereka, keadilan mereka, perilaku dan kebaikan perbuatan mereka. Dengan pemberitahuan dari Allah SWT bahwa Allah SWT telah menyediakan pahala untuk mereka dalam dua dunia (dunia dan Akhirat).

Golongan Salafus Sholeh merupakan generasi terbaik (khoirul qurun qarniy). Mengenai hal ini Rasulullah telah menjelaskan dalam sebuah hadits:

“Generasi terbaik adalah generasiku, kemudian generasi sesudah mereka, kemudian generasi sesudah mereka…” dan Rasulullah SAW bersabda, ”Kemudian akan datang orang-orang yang menjadi saksi, tetapi ketika mereka ditanya, mereka tidak memberikan kesaksian. Mereka orang-orang yang tidak jujur dan tidak dapat dipercaya. Mereka memberikan janji namun tidak ditepati. Fakta seperti itu akan merajalela di tengah-tangah mereka.” (HR. Bukhori 5/190).

Dalam sumber lain Rasulullah Muhammad SAW bersabda :

“mereka (sahabat-sahabatku) tidak akan berkhianat, tidak juga mereka mebuat fitnah dan siapa saja yang mengikuti mereka dari golongan tabi’in, mereka berada pada jalan yang benar.”

Perbedaan antara Hadist Ahad dan Hadist Mutawatir dan pendapat-pendapat mengenai hal tersebut

Dalam sumber lain Rasulullah SAW bersabda:

“Sepeninggalku akan ada suatu masa yang penuh dengan penyimpangan-penyimpangan, ikutilah sunnahku dan sunnah sahabat-sahabatku serta sunnah orang-orang yang mendapat petunjuk yaitu Khulafaur Rosyidin, gigitlah ia dengan gigi gerahammu dan berpeganglah dengan kuat. Berhati-hatilah terhadap sesuatu yang baru, karena setiap sesuatu yang baru (bid’ah) adalah sesat.
“(Diriwayatkan Abu Dawud dalam Sunannya (4607)

Rasulullah Muhammad SAW adalah seorang utusan dan seorang yang bertugas untuk menjelaskan kitab-Nya. Dalam hadist ini, Rasulullah SAW menjelaskan kepada kita untuk mengikuti sunnahnya dan sunnah sahabat-sahabatnya. Umat Islam saat ini banyak yang terjerumus kedalam urusan atau permasalahan yang menyimpang atau sesat. Contoh yang jelas dari hal tersebut adalah beberapa masyarakat yang ada pada saat ini (contoh dari golongan Ash’ariah, golongan Maruridiyah dan partisipan organisasi politik seperti Hizbut Tahrir) cenderung untuk membedakan antara hadits ahad dan hadits mutawatir. Perbedaan ini adalah salah satu dalil yang paling dominan yang mereka gunakan untuk melawan Salafus Sholeh. Salafi tidak mengenal apapun tentang hadist mutawatir maupun hadist ahad. Perbedaan terminologi akan hal ini dibangun atas pedoman-pedoman yang komplek. Mereka berpendapat bahwa hadits ahad (contoh hadits shohih) yang berisi tentang akidah tidak dapat dipakai ke dalam permasalahan akidah sebab hadits ahad belum mencapai informasi yang pasti, karena tidak diriwayatkan dengan jalan tawatur. Akan tetapi pada waktu yang sama, hadits-hadits tersebut dapat dipakai dalam masalah ahkam (hukum-hukum atau syariat). Kita mungkin bertanya kenapa ada pemisahan antara akidah dengan hukum-hukum ? Dapatkah seseorang menemukan perbedaan antara Al-Qur`an dan As-Sunnah? Sesungguhnya jawaban atas pertanyaan itu tidak ada. Ayat-ayat dari Al-Qur`an dan Al-Hadits berisi tentang permasalahan keyakinan,akidah,keimanan, bersamaan itu juga membahas hukum-hukum, jadi tidak ada perbedaan dari yang telah disebutkan tadi. Tidak ada bukti yang mendukung argumen mereka. Tidak adanya bukti tersebut menyebabkan mereka membuat kesalahan. Kesalahan dalam permasalahan pokok dapat menyebabkan hasil akhir yang salah pula. Pernyataan yang menyatakan bahwa hadits-hadits ahad dalam masalah akidah adalah bid’ah (penyimpangan dalam agama), maka pendapat itu harus dibuang. Sungguh suatu pelajaran berarti telah sampai kepada kita bahwa para sahabat Rasulullah berdiri diatas pengetahuan Islam yang sangat dalam dan mereka tidak ada perbedaan pandangan dalam memahami Islam. Posisi yang benar dalam urusan tersebut adalah berpegang kepada Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang dapat menerima hadits-hadits (baik ahad maupun mutawatir) sebagai bukti atau dalil dalam masalah akidah maupun syari’ah.

Dan Rasulullah SAW bersabda :

“….ikutilah setelah aku, dua orang shahabatku yaitu Abu Bakar dan Umar ….” Dalam hadits lain Amru bin Aas r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah Muhammad SAW mengirimnya dalam barisan pasukan yang diberangkatkan ke Dhaat-as-Salaasil. Ketika Amru bin Aas r.a. pulang dari peperangan dan menemui Rasulullah, dia (Amru bin As) bertanya: “siapakah yang paling engkau cintai ya, Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Aisyah r.a. dari golongan wanita”. Dia (Amru bin Aas) bertanya lagi: “siapakah kaum laki-laki yang paling engkau cintai?” Rasulullah SAW menjawab: “ayahnya (Abu Bakar)”, dan saya bertanya lagi “lantas siapa lagi?” Rasulullah SAW menjawab: “Umar r.a.,” Rasulullah SAW kemudian menyebutkan satu persatu nama beberapa orang yang dicintainya. (HR. Muslim 5876)

Rasulullah SAW bersabda:

“….generasi terbaik adalah generasiku dan generasi yang datang setelahnya kemudian generasi setelahnya…..”

Dalil yang menunjukkan derajat diantara salaf.

Ada banyak dalil diantara hadits-hadits yang menjelaskan tentang derajat atau tingkatan penghargaan diantara sahabat-sahabat. Terdapat hadits-hadits yang mengindikasikan kebaikan-kebaikan para sahabat yang memeluk Islam sebelum penaklukan Mekkah (Fathul Mekkah). Para sahabat yang terdahulu atau pertama-tama adalah lebih baik dari pada para sahabat yang datang setelahnya, pemahaman ini dapat dilihat dalam fikih maupun dalam pengamalan agama seperti dalam firman Allah SWT :

“….Tidak sama diantara kamu orang yang menafkahkan hartanya dan berperang sebelum penaklukan (Mekkah). Mereka lebih tinggi derajatnya dari pada orang-orang yang menafkahkan hartanya dan berperang sesudah itu, Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka balasan yang lebih baik…..”(QS. 57:10)

Dalil yang menunjukkan bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah bagian dari perbedaan tentang salafi dengan cara kritis

Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengambil para sahabat Rasulullah Muhammad SAW sebagai teman (auliya’). Saat ini terdapat golongan manusia yang memperbincangkan tentang aib atau tentang kecacatan dari sahabat-sahabat Rosul dan apa yang terjadi ditengah-tengah mereka. Mereka menentang Tuhan mereka padahal Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak pernah mengkhianati satupun dari sahabat-sahabat Rosul. Hujah dari hal ini diambil dari sabda Rasulullah Muhammad SAW :

“Janganlah salah seorang dari kamu mengkhianati sahabat-sahabatku. Demi dzat yang jiwaku ditangannya. Andaikan salah seorang dari kamu membelanjakan hartamu dijalan Allah SWT setara besarnya dengan gunung-gunung Uhud yang terbuat dari emas niscaya tidaklah melebihi segenggam atau tidak setengah genggam dari apa yang telah mereka (sahabat-sahabat ku) nafkahkan.” (HR. Bukhori 7/27, 28 dalam buku kebaikan-kebaikan sahabat-sahabat Rosul).

Hadits lain disebutkan bahwa Rasulullah Muhammad SAW bersabda: “Ketika sahabat-sahabat ku disebut maka kemudian akan engkau ulangi dengan lisanmu.” (At-Tabrani dalam Al-Kabir (2/78/2) dari hadits Ibnu Mas’ud). Hadits-hadits ini mengindikasikan bahwa sebagai seorang Muslim, kita tidak diperkenankan membicarakan kesalahan-kesalahan atau aib-aib mereka atau memusuhi mereka, atau informasi-informasi yang menyebabkan kita melakukannya. Pada saat ini kita dapat menemukan banyak sekali orang-orang yang berusaha menghina sahabat-sahabat Rosul, yaitu dari golongan-golongan yang mengagung-agungkan Rosul dari golongan syi’ah.

Setelah penaklukan Mekkah (fathul Mekkah) Abu Sofyan memeluk Islam. Beberapa orang sahabat diantara mereka yaitu Bilal al-habasyi dan Amar bin Yassin memberikan komentarnya dan berkata:

“Pedang Allah tidak ditaruh atau ditanggalkan. Ini benar-benar berkaitan dengan Abu Sofyan, hal ini terjadi disebabkan mereka masih mengingat hari-hari sebelumnya yang telah lewat, dimana Abu Sofyan memerangi dan menyiksa mereka (kaum Muslimin). Kemudian ketika dia (Abu Sofyan) memeluk Islam, mereka masih mempunyai kekesalan dalam hati mereka dan mempunyai keinginan hati untuk melawannya. Abu Bakar as-Shiddiq r.a. mendengar apa yang mereka keluhkan dan dia berkata: “Apakah kamu membicarakan pemimpin Quraisy (Abu Sofyan)?” Bilal dan Amar r.a tidak membantah Abu Bakar dan mereka tetap diam. Setelah kejadian itu Abu Bakar r.a pergi menemui Rasulullah Muhammad SAW dan menyampaikan kepadanya tentang semua apa yang mereka katakan dan bagaimana dia menjawab atau mengomentari mereka, kemudian Rasulullah Muhammad SAW berkata kepada Abu Bakar: “Oh Abu Bakar, jika kamu marah pada Amar dan Bilal, berarti kamu marah kepada Allah SWT. Keduanya, Bilal dan Amar seorang yang masuk Islam (Muslim) sebelum Abu Sofyan.

Aspek hukum Syari’at terhadap orang-orang memojokkan salafi

Dengan melihat hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa siapa saja yang melawan para sahabat dan memojokkan mereka, menyumpah (mencela) mereka, maka mereka dapat dikategorikan kufur dan keluar dari Islam.

Ada satu peristiwa pada waktu perang Tabuk yaitu orang-orang munafik dari barisan kaum Muslimin bertanya kepada sahabat, bagaiman sahabat dapat lari dan berperang untuk berjihad ketika mereka dalam keadaan gemuk dan ketika mereka menjadi pengecut. Mereka ditanya bagaimana mereka dapat berdiri dalam peperangan melawan pasukan Romawi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan makian dan hinaan untuk melawan sahabat dalam waktu selama 3 bulan. Ketika mereka berkata (mengucapkan) hal itu, Allah SWT menurunkan ayat dalam Al-Qur`an yang berbunyi:

“Apakah dengan Allah SWT, ayat-ayat-Nya dan Rasul-rasul-Nya kamu selalu memperolok-olok? tidak usah kamu minta maaf karena kamu kafir sesudah beriman.” ( QS.9:65-66)

Orang-orang munafik yang melawan sahabat, oleh Allah SWT dinyatakan dalam ayat surat At-Taubah dengan pernyataan:

“Apakah dengan Alloh SWT, ayat-ayatNya dan Rosul-rosulNya kamu selalu berolok-olok?” (QS. 9:65).

Allah SWT menghubungkan penyerangan atas diri para sahabat dengan penyerangan atau perlawanan terhadap dirinya sendiri (Allah SWT), Ayat-ayat-Nya dan Rasul-rasu-Nya. Kesimpulan dari dalil ini menunjukkan bahwa berkata sesuatu yang melawan, mencela dan menghina sahabat-sahabat Rasul adalah sungguh merupakan perkara yang serius (dilarang keras dalam syariat).

Seorang Muslim yang menghina shahabat maka sungguh ia telah kafir seperti mereka yang tidak beriman kepada Allah SWT, sebab mereka telah menghina para sahabat padahal Allah SWT telah memujinya. Tidak ada seorangpun yang mana Allah SWT telah memujinya kemudian ada orang yang menghinanya atau memperolok-olok melainkan ia disamakan dengan orang-orang yang memaki agama Allah SWT, seperti dalam surat At-Taubah ayat 65-66 yang telah disebutkan di atas.

Pada saat bersamaan, ketika mereka memaki sahabat maka dimaknai dengan memaki Rasulullah SAW. Hal ini disebabkan Rasulullah SAW dalam banyak kesempatan telah memuji sahabat dan memuji mereka yang mengikutinya dan murid-murid mereka. Penyerangan terhadap salah satu dari mereka yang mana Rasulullah SAW telah memujinya maka secara implisit telah menyerang Rasulullah Muhammad SAW sendiri. Dari poin ini, Allah SWT telah menyatakan bahwa mereka kafir sesudah mereka beriman karena makian mereka terhadap sahabat-sahabat Rasulullah Muhammad SAW.

Dalam hadist lain diriwayatkan oleh al-Bara’ r.a., dia berkata:

“Saya mendengar Rasulullah SAW berkata tentang orang-orang Anshor: “Tidak seorangpun yang mencintai orang-orang Anshor melainkan ia adalah orang yang beriman dan tidak seorangpun membenci mereka melainkan ia orang-orang munafik. Allah akan mencintai yaitu mencintai siapa saja yang mencintai mereka dan Allah akan membenci yaitu membenci orang-orang yang membenci mereka (orang-orang Anshor).” (HR. Bukhori (1557) dalam buku Kebaikan-kebaikan sahabat -sahabat Rasulullah)

Rasulullah SAW bersabda:

“Siapa saja yang mencintai mereka (para sahabat), maka Allah akan mencintainya, dan siapa saja yang membenci mereka, maka Allah akan membencinya.” (HR. Bukhori (1557) dalam buku Kebaikan-kebaikan sahabat -sahabat Rasulullah).

Dalam sumber lain disebutkan bahwa Rasulullah Muhammad SAW bersabda:

“Tidak satupun orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, dia membenci orang-orang Anshor.”

Mafhum Mukhalafah dari hadits ini menunjukkan bahwa siapa saja yang membenci para sahabat, maka ia tidak beriman kepada Allah dan hari Kemudian.

Hal senada telah disebutkan dalam sumber lain, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Siapa saja yang bersumpah melawan sahabat-sahabatku berarti ia mengutuk atau memaki Allah, para malaikat dan semua orang yang berdiri di antaranya (orang-orang yang mendukung sahabat ).

Diriwayatkan bahwa Abdullah Ibnu Mas’ud berkata bahwa Rasulullah bersabda:

“Allah melihat kedalam hati dari utusan-utusan-Nya dan menemukan hati yang terbaik dengan penuh kebaikan pada Rasulullah Muhammad saw dan Dia memilihnya menjadi utusan Allah untuk menyampaikan Islam. Kemudian Allah melihat semua hati pembantu-pembantunya (setelah Rasulullah) dan Dia menemukan yang terbaik pada sahabat-sahabat Rasulullah Muhammad SAW.”

Para sahabat berjuang untuk mempertahankan Agama Islam, siapa saja diantara para sahabat Rasulullah SAW, mereka adalah baik, dan Allah SWT memandang mereka sebagai orang-orang yang baik. Siapa saja yang mereka memandangnya (sahabat) buruk, maka Allah SWT akan memandang orang tersebut dengan pandangan buruk. Demikian juga, siapapun dari umat ini yang tidak sadar akan kedudukan salafi (yang sebenarnya) maka tidak dapat memahami petunjuk agama ini.

Pembuktian Penyimpangan Prinsip-prinsip: “Madzab Salafi Selamat , tetapi Madzab yang lain adalah lebih berpengetahuan.

Diantara penyimpangan yang ada dan diketahui dengan prinsip (qoidah) yang secara umum dapat dinyatakan: “Madzab dari Salaf adalah aman (mereka selamat) dan memiliki fadhilah-fadhilah atau keutamaan, tetapi Madzab dari yang berbeda dengan mereka adalah lebih memiliki pengetahuan hukum-hukum yang lebih dari sahabat.” Perbandingan antara madzab salafi dengan madzab-madzab yang berbeda dengan mereka adalah suatu perbandinga yang buruk. Hal ini sangat berkebalikan dengan teks hadits yang menyatakan :

“Generasi terbaik adalah generasiku……”

Dalam hadits lain, Rasulullah SAWbersabda:

“Akan datang kepadamu suatu masa, orang-orang atau generasi yang melakukan keburukan dan yang datang setelahnya adalah lebih buruk dari sebelumnya.” (HR. Bukhori (4/315).

Klaim yang menyatakan bahwa generasi yang datang kemudian lebih memiliki pengetahuan tentang syariat dan lebih baik daripada generasi yang melakukan kebaikan adalah dalil atau alasan yang tidak bisa diterima. Siapapun orangnya yang mengetahui dan memahami Kitabullah dan sunnah Rasulullah pastilah setuju bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah generasi yang terbaik diantara umat ini dalam perbuatan-perbuatan mereka, keyakinan atau aqidah mereka dan dalam hal yang lain, sebagai generasi pertama, kemudian generasi yang mengikuti mereka, kemudian generasi yang mengikuti mereka. Perkara ini adalah sesuatu yang penting untuk diketahui dalam agama Islam dan tidak ada seorang pun yang mengingkarinya kecuali seseorang yang secara realita tidak mendapatkan petunjuk.

Para sahabat, mereka memiliki keduanya yaitu “aslam wa ahkam”, mereka menyimpan (keduanya) dan mereka tahu yang terbaik daripada mereka. Adapun dengan perkataan yang mengatakan bahwa golongan-golongan yang berbeda (dengan mereka) dikatakan lebih ilmu pengetahuannya daripada salafi, maka ini merupakan penghinaan terhadap sahabat-sahabat Rasulullah Muhammad SAW. Hukum yang berkaitan dengan penghinaan terhadap sahabat telah disebutkan dalam point sebelumnya.

Dalam poin ini akan dijelaskan tentang bantahan terhadap penyimpangan- penyimpangan yang mereka katakan tentang Salafi dan menunjukkan kekeliruan buah pemikiran khalaf (golongan yang berbeda dengan sahabat yang datang sesudah masa sahabat). Kita ketahui bahwa mayoritas sahabat telah dijanjikan surga oleh Allah SWT. Allah SWT telah mengumumkan bahwa Dia (SWT) telah meridhoi sahabat-sahabat Rasul (secara jama’ah). Pertanyaan yang mesti kita tanyakan kepada khalaf adalah apakah diantara khalaf dapat dengan tangannya dan mengatakan bahwa Allah meridhoinya?. Siapakah diantara khalaf yang dapat mengatakan bahwa mereka dapat jaminan tempat di surga (jannah)? Jawaban atas pertanyaan tersebut telah jelas. Salafi adalah orang-orang yang mempunyai nama dan atribut-atribut yang telah disebutkan dalam Al-Qur`an dan Allah SWT telah mengumumkan bahwa Dia (SWT) telah meridhoi mereka semua.

Sang Pembuat Hukum (al-Hakim) memerintahkan kepada kita untuk mengikuti Salafus Sholeh (Kebenaran dari Generasi pendahulu) dan tidak mengikuti khalaf (generasi sesudah salaf). Hal ini terbukti sebagaimana apa yang ada dalam hadits-hadits dan ayat-ayat yang telah disebutkan hingga saat ini bahwa Allah meridhoi mereka dan menunjukkan kepada kita bahwa hanya dengan mengikuti salafi-lah jalan yang selamat bukan khalaf.

Para sahabat adalah orang yang hidup pada waktu wahyu turun kepada Rasulullah Muhammad SAW. Para sahabat bersamanya (Nabi Muhammad SAW). Mereka mengambil pengetahuan (ilmu) dari Rasulullah Muhammad SAW secara langsung. Bagaimana bisa khalaf yang datang sesudah generasi sahabat bisa kita bandingkan dengan salaf ?

Sebagai contoh bagi kita, para sahabat diibaratkan sebagai orang yang minum air dari sumbernya langsung (dari sumbernya sehingga memiliki poin yang tinggi) dibandingkan dengan mereka yang minum air satu kali dari sungai (atau mengambil air yang tidak murni dari sumbernya tapi dari aliran sungai yang menuju sungai). Para sahabat, mereka mengambil ilmu pengetahuan (ilmu) secara sungguh-sungguh langsung dari lisan Rasulullah Muhammad SAW, inilah yang diibaratkan mengambil ilmu langsung dari sumbernya. Sedangkan khalaf dicontohkan tidak mengambil ilmu pengetahuan dari sungai (tidak dari sumbernya). Pastilah kesudahan atau hasilnya tidak akan sama dengan yang terdahulu (belajar langsung dari Rasulullah).

Kita mungkin bertanya bagaimana itu bisa terjadi, selama berpuluh-puluh tahun kita telah mempelajari dan membaca banyak kitab-kitab yang berhubungan dengan falsafah atau filosofi dan ide-ide yang berhubungan dengan filosofi, tetapi kita tidak pernah kesulitan untuk mempelajari Kitabullah, dengan pemahaman yang benar. Setelah berpuluh-puluh tahun mempelajari filosofi (falsafah), paham-rasionalitas, mantik atau logika, ideologi-ideologi dan ilmu-ilmu yang lain, kita mulai atau baru mempelajari ayat-ayat Al Qur`an dan hadits-hadits serta mencoba memahaminya dengan informasi terdahulu (falsafah, logika, ideologi-ideologi lain) yang telah kita bawa dalam benak kita. Dalam waktu yang lama, kita telah mengkondisikan otak kita untuk berpikir logika yang jatuh kedalam pemikiran yang salah dan menyimpang. Para sahabat tidak pernah mengalami kesalahan atau penyimpangan, karena mereka hidup sebelum kondisi itu terjadi yang dialami oleh mereka (orang-orang setelah sahabat). Sahabat tidak pernah cacat atau salah (dalam memahami Islam) sebagaimana yang dialami mayoritas khalaf.

Dalam suatu kesempatan, Umar bin Khattab r.a. membawa beberapa halaman dari kitab Taurat. Dia (Umar) membawanya kepada Rasulullah Muhammad SAW dan mulai membacanya kepada Rasulullah. Diantara dia (Umar) dan Rasulullah terdapat Abu Bakar r.a. yang duduk di tengah-tengah mereka. Ketika Umar membaca ayat-ayat dari kitab Taurat, wajah Rasulullah terlihat tanda-tanda kemarahan yang sangat. Saat itu pula, Abu Bakar r.a. melihat kepada Rasulullah kemudian melihat Umar yang membaca ayat-ayat dari kitab Taurat dengan suara pelan. Dia (Abu Bakar) melihat Rasulullah menjadi semakin progresif dan semakin marah. Umar r.a. meneruskan bacaan ayat-ayat dari kitab Taurat tersebut. Abu Bakar as-Shiddiq r.a. menghentikannya dan menggoncang Umar dan berkata: “Beraninya kamu, wahai Umar. Kamu telah membaca suatu bacaan yang membuat Rasulullah SAW menjadi sangat marah.” Umar melihat Rasulullah SAW dan berkata: “Saya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Diucapkannya 3 kali. Kemarahan Rasulullah SAW terhadap apa yang dibaca Umar disebabkan apa yang dibacanya berhubungan dengan topik yang sangat penting dari bagian keimanan yang menyangkut agama mereka (yaitu ide-ide pemikiran tentang aqidah dan konsep-konsep aqidah menurut kriteria mereka (Yahudi). Hadits tersebut menunjukkan kepada kita bahwa Rasulullah Muhammad SAW menolak beberapa halaman kitab Taurat, dan memerintahkan untuk meninggalkan logika (mantik), rasionalitas dan filsafat yang berasal dari orang-orang khalaf dan orang-orang yang mengikutinya. Rasulullah SAW bersabda:

“Demi Allah wahai Umar, jika Nabi Isa a.s. dan Nabi Musa a.s. hidup pada masaku, mereka tidak akan punya pilihan kecuali mengikutiku.” (HR. Ahmad (3/338,387).

Jika Rasulullah Muhammad SAW masuk ke dalam rumah-rumah kaum Muslimin saat ini (dari golongan intelektual, politikus, pembawa ide-ide perubahan agama dan lain-lain), beliau SAW akan melihat bagaimana rujukan materi-materi yang telah dikoleksi (dijadikan sumber pijakan atau standar amal) umat saat ini, ternyata berasal dari orang-orang yang mendahulukan logika dan filosofi atau filsafat seperti paham Lenin, marxisme, komunisme dan ide-ide salah lainnya. Apa yang akan dikatakan Rasulullah SAW kepada kita? Bagaimana kemarahan yang terjadi pada diri Rasulullah ? Dalil terhadap point ini telah disebutkan sebelumnya, yaitu tentang pembenaran pernyataan bahwa tidak ada agama setelah Muhammad SAW kecuali agamanya. Siapa saja yang mengikuti agama yang lain (selain Islam) atau jalan hidup yang lain, maka tidak akan diterima darinya agama itu dan di hari Kiamat (Pengadilan) nanti, dia akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.

Bagaimana Pengikut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Memandang Ulama-ulama khalaf (ulama-ulama sesudah masa Rasulullah)

Hal penting yang terjadi pada masyarakat atau orang-orang saat ini adalah mereka berada pada kebimbangan. Mereka bertanya, Apakah pengikut-pengikut Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengatakan semua ulama-ulama dari khalaf (ulama-ulama yang datang sesudah sahabat) tidak memiliki nilai apa-apa bagi Islam dan bagi kaum Muslimin? Apakah pengikut Ahlus Sunnah wal Jama’ah berkata kepada umat tentang semua ulama khalaf, bahwa kepada mereka (umat) seharusnya berpaling darinya (dari ulama khalaf) ? Jawaban atas semua pertanyaan tersebut sebenarnya telah ada pada penjelasan yang paling awal. Ahlus Sunnah wal Jama’ah menegaskan bahwa ulama-ulama khalaf adalah baik dan benar selama mereka mengikuti sahabat. Jika mereka mengikuti 50 % dari sahabat berarti mereka telah memiliki 50 % kebaikan. Jika mereka mengikuti 70 % dari sahabat berarti mereka telah mengikuti 70 % dan seterusnya. Jadi standar dan derajat mereka akan tinggi jika mengikuti sahabat dan rendah jika mereka menyimpang dari pemahaman sahabat.

Nilai alim dan standar akan menjadi tinggi dinilai dari keterikatannya terhadap Islam berdasar atas bagaimana ia mengikuti mereka (sahabat) dari A’immah Islam. Nilai dan standarnya akan menjadi rendah di mata Islam jika kedepannya dia meninggalkan standar sahabat. Itulah yang telah disampaikan oleh Syekhul Islam saat ini sebagai doktor atau Profesor syariah.

Siapapun dari kaum Muslimin, jika menginginkan keselamatan pada kehidupan akan datang (akhirat) dan ketenangan (tuma’ninah) dalam hidup di dunia ini, ikutilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Kita memohon kepada Allah SWT agar memberikan petunjuk kepada kita untuk menuju kemurnian aqidah (keimanan) dan berdasar kemurnian aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam yang menunjukkan kepada kita pemahaman dan manhaj (metode) yang benar dan menunjukkan kepada kita kebenaran serta menggiring kita mengikuti hidayah dan Allah telah menunjukkan kepada kita kesesatan (dholalah) dan memberikan kepada kita hidayah supaya kita mengikutinya. Sesungguhnya, Allah Maha Mendengar dan memperhatikan kita semua. Ya Allah! Jadikanlah kita mati dalam kondisi sebagai seorang Muslim (iman) dan menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang sholeh (sholihin) bukan golongan orang-orang yang tercela atau dimurkai. Ampunilah kami, orang tua kami dan orang-orang yang beriman pada hari Pengadilan atau Pembalasan, Sesungguhnya Dia adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan mengabulkan semua permohonan dan do’a kita. Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam.

Komentar
  1. arini rahmah mengatakan:

    assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatu, subhanallah… ana sangat bangga dengan semangat para salafy yang senantiasa takut akan kemurkaan Allah, walupun banyak orang yang menyatakn dan sering menremehkan dan menganggap bahwa dakwah para salafush sholeh adalah lemah dan kaku, itu mungkin menurut ana mereka belum tahu gimana keutamaan ilmu,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s